Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Saksi Bisu Perang Laut Pertama Di Indonesia
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Monumen Perjuangan Lintas Laut yang berlokasi di Cekik, Gilimanuk merupakan saksi bisu pertempuran laut pertama di Indonesia antara pejuang Indonesia dengan tentara Belanda.
Dalam monumen tersebut terpatri setidaknya 290 nama para pejuang pasukan Markadi dan para pejuang pemuda di Bali.
Peristiwa perang laut pertama di Indonesia ini terjadi di Selat Bali pada 4 April 1946.
I Nyoman Nirba, seorang pelaku peristiwa bersejarah tersebut menuturkan pertempuran di Selat Bali tersebut dipimpin oleh Kapten Markadi.
“Pada 3 Maret 1946 Belanda datang lagi dengan membonceng Sekutu dan berhasil mendaratkan tentaranya di Bali.
Informasinya, Bali merupakan batu loncatan untuk menggempur Jawa,†ujar Nirba mengawali kisahnya.
Ketua LVRI Jembrana ini menambahkan tidak mau prediksi itu terjadi, pimpinan pusat memutuskan untuk membuat gerakan dengan menerjunkan pasukan tempur di Bali, guna menghambat konsolidasi tentara Belanda.
Lalu dikirimlah Pak Markadi dengan pasukannya yang dikenal dengan Pasukan M untuk membantu Resimen Sunda Kecil dibawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai,imbuhnya.
Dalam ekspedisi pertama ke Bali, kata Nirba, ada tiga rombongan yang berangkat dengan menggunakan 3 perahu nelayan, yakni rombongan ekspedisi Troop Sunda Kecil TKR Laut atau rombongan Markadi, rombongan Pangkalan X/TKR Laut atau rombongan Waroka dan rombongan Resimen TKR Sunda Kecil atau Rombongan I Gusti Ngurah Rai dengan tugas yang berbeda-beda.
“Lalu tanggal 3 April 1946 malam, ketiga rombongan bergerak menyeberangi Selat Bali. Rombongan Waroka mendarat dengan selamat di Celukan Bawang. Namun dua rombongan lainnya terlibat peperangan sengit dengan pasukan angkatan laut Belanda,†ujarnya.
Dalam pertempuran tersebut, lanjut Nirba, pada rombongan Markadi dua pejuang gugur yakni, Sumeh Darsono dan Sidik.
“Sedangkan pada rombongan Ngurah Rai, Cokorda Oka, Cokorda Rai Gambir dan Kapten Cokorda Darma Putra serta tiga rakyat nelayan gugur,†ujarnya.
Kendati mengakibatkan korban jiwa, Ekspedisi TKR Laut saat itu berhasil menggerakkan para pemuda dan rakyat Bali untuk bergerilya melawan Belanda.
“Pertempuran laut itu tidak sia-sia karena setelah itu operasi-operasi gerilya terus dilancarkan di berbagai tempat di Bali dan mencapai puncaknya pada perang puputan di Margarana,†pungkas Nirba.
Reporter: bbn/dey
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3814 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1760 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang