Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Harus Berani Investasi Infrastruktur Air
Beritabali.com, Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Isu Bali mengalami krisis lama sudah sejak lama berhembus, namun hingga saat ini belum ada upaya untuk mencari solusi sebagai antisipasi. Pembangunan infrastruktur pemanfaatan air juga sangat terbatas. Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya berharap pemerintah daerah berani berinvestasi untuk membangun infrastruktur untuk memanfaatkan dan mengolah air sungai, guna menghindari pengambilan air bawah tanah secara berlebihan.
"Kita harus berpikir jernih, air sungai kita semua terbuang ke laut, kenapa itu tidak kita olah dan kita alirkan ke hotel. Dengan harga yang lebih murah, daripada menyedot air bawah tanah. Makanya pajak kita tinggikan dan PDAM memberikan yang lebih murah, ini yang harus dilakukan, harus ada investasi, kalau kita ukurannya keuntungan habis kita, keuntungannya adalah mempertahankan Bali,” ujar Made Arjaya.
Disisi lain Arjaya mengaku yakin Bali tidak akan mengalami krisis air, sebab apa yang ada di Bali saat ini merupakan anugrah yang diberikan untuk kesejahteraan masyarakat Bali.
“Makanya kami yakin tuhan akan memberi jalan, teknologi akan memberi jalan , sekarang kan air laut bisa di ubah, kalau pun Bali tidak di bangun atau apapun namanya kalau alam menghendaki air bawah tanah dan lain sebagainya ini hilang, tapi Cuma teknologi ini bagaimana bisa kita hulu harus kita jaga, laut kita harus jaga, sungai harus kita jaga, kemudian kita juga harus mampu bagaimana penyedotan terhadap air bawah tanah ini bisa di rem,” jelasnya.
Sebelumnya pemerintah provinsi Bali telah memberlakukan kebijakan menaikkan pajak air bawah tanah menjadi 1000 kali lipat. Karo Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Bali Ketut Teneng menyatakan kebijakan ini sebagai bentuk upaya memproteksi keberadaan air bawah tanah.
“Yang pertama ingin menyelamatkan air bawah tanah dulu supaya mau agak lebih efisien, efektif, bapak gubernur juga memberikan solusi, kalau memang dari perhotelan itu barangkali kebanyakan menggunakan air, coba airnya itu diimbangi diolah , itu bisa dipergunakan untuk menyiram dan lain sebagainya,” kata Ketut Teneng.
Menurut Teneng, kebijakan menaikkan restribusi air bawah tanah menjadi 1000 kali lipat juga sebagai bentuk mewujudkan keadilan. Sebab masih ada masyarakat Bali yang kesulitas mendapatkan air dan bahkan membeli dengan harga tinggi.
“Kenapa kemudian dijadikan naik menjadi 1000, karena dihitung perkubik atau perkilokubiknya itu sangat rendah sekali, dibandingkan dengan harga orang PDAM, yang kedua kalau kita perhatikan sekarang, nilai ekonomis ini dia menjual dengan murah kemudian mendapatkan keuntungan, tetapi kalau kita ke petani atau masyarakat miskin di Nusa Penida kemudian di Karangasem, itu bisa satu gallon 50 ribu,” ujarnya.
Teneng menambahkan selama 2010, nilai pajak restribusi dari air bawah tanah mencapai lebih dari 16 Milyar rupiah.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3878 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2397 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1931 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1793 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun