Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Flu Burung Muncul Lagi Di Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Kasus flu burung (H5N1) di Kabupaten Jembrana, kini muncul kembali setelah sebelumnya mewabah di Banjar Tengah, Desa Mendoyo Dauh Tukad, di Tegal Cangkring, Desa penyaringan dan Pulukan, kini virus yang mematikan tersebut muncul lagi di Banjar Rening Desa Baluk Negara.
Kasus flu burung ini diketahui di rumah Dewa Ketut Kariada seorang peternak pitik warga Banjar Rening Desa Baluk. "awalnya lima ayam saya mati mendadak, lalu besoknya mati lagi dua," jelas Kariada. Total jumlah ayam yang mati mendadak sebanyak 7 ekor dan hasil tes ternyata postif flu burung. Ayam mati secara mendadak tersebut kemudian dibakar dan dikubur.
Sebelumnya anak dari Dewa Ketut Kariada dengan Dewa Ayu Komang Sumiarni mengalami sakit flu dan batuk sejak hari minggu (1/4) lalu.Terkait dengan matinya ayam miliknya secara tidak wajar, maka anaknya sudah mendapatkan pengawasan dan observasi selama empat hari di RSU Negara.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Jembrana Dr I Putu Suasta mengakui jika ada unggas yang mati mendadak postif flu burung. "kami telah melakukan perawatan terhadap anak tersebut, dan sekarang panasnya sudah mulai turun dan akan tetap kami awasi," jelasnya.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2961 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2053 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2023 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun