Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bukan Sekadar Menambah Kapal: Mencari Formula Mengurai Antrean Ketapang-Gilimanuk

Minggu, 13 September 2026, 08:06 WITA Follow
Beritabali.com

ASDP/ist/antrian di pelabuhan gilimanuk

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Malam itu, ribuan kendaraan berhenti bergerak di sepanjang Jalan Raya Ketapang. Truk logistik berbaris dengan mobil pribadi sejak Rabu malam, 2 September 2026, hingga Kamis pagi. Ekor antrean membentang dari pelabuhan sampai kawasan SPBU Bangsring, sekitar 12 kilometer. Sebagian sopir mengaku kendaraan mereka tidak bergerak selama lima jam.

Dua hari berselang, antrean truk logistik di sisi Ketapang menembus 16 kilometer. Pada 6 September, antrean kembali mengular hingga belasan kilometer, dengan ekor tersisa di kawasan Watudodol pada pagi berikutnya. Pola ini bukan kejadian sekali waktu. Sepanjang 2026, antrean panjang muncul berulang: pada Maret setelah Lebaran, pada Juni hingga Juli, lalu kembali awal September.

Baca juga:
Antrean Gilimanuk 1,6 Km, ASDP Kerahkan Dua Kapal

Lintasan Ketapang-Gilimanuk menghubungkan Jawa dan Bali, dan kepadatan di sana berarti kerugian waktu bagi penumpang, keterlambatan pengiriman barang, serta tekanan pada roda ekonomi dua provinsi sekaligus. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjawab tiap lonjakan dengan cara yang sama: menambah kapal. Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengonfirmasi pengerahan 25 kapal saat antrean 12 kilometer awal September, lalu menaikkannya menjadi 26 kapal dengan pola delapan trip per hari ketika antrean kembali muncul pada pekan berikutnya.

Menambah kapal bekerja untuk meredakan gejala. Pertanyaannya, apakah langkah itu cukup untuk lintasan yang kepadatannya datang berulang sepanjang tahun.

Akar Masalah yang Berlapis

Kapasitas dermaga di Ketapang dan Gilimanuk sedang dalam proses peningkatan, dan pembangunan itu berjalan bersamaan dengan lonjakan volume kendaraan. General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menjelaskan bahwa kombinasi keduanya membuat waktu tunggu kendaraan memanjang dan antrean mengular hingga beberapa kilometer menuju pelabuhan.

Dalam kondisi normal, lintasan ini dilayani sekitar 28 kapal dengan total kurang lebih 224 trip per hari. Angka itu cukup untuk hari biasa. Saat musim padat, jumlah truk yang menyeberang bisa melewati 2.000 unit per hari untuk satu arah saja. Pada 14 Maret 2026, tercatat 2.047 truk bergerak dari Ketapang menuju Gilimanuk dan 1.986 truk dari arah sebaliknya, seluruhnya dalam rentang 24 jam. Arus kendaraan dari dua arah jarang seimbang pada saat bersamaan, sehingga kapal yang dijadwalkan rutin sering tiba di sisi yang salah pada momen yang salah.

Waktu bongkar-muat menambah beban. Setiap kapal butuh waktu sandar, bongkar kendaraan, lalu muat kendaraan baru sebelum berangkat lagi. Semakin lama proses itu berlangsung, semakin sedikit trip yang bisa diselesaikan kapal dalam sehari, dan semakin panjang antrean yang menumpuk di darat.

Pola kedatangan kendaraan pun tidak merata. Lonjakan logistik cenderung datang mendadak, dipicu jadwal pengiriman dari Jawa ke Bali atau sebaliknya, sementara arus penumpang naik tajam menjelang libur panjang atau masa mudik. ASDP mencatat kenaikan trafik Ketapang-Gilimanuk berkisar 13,5 persen hingga 36,1 persen pada arus berangkat dan 22,3 persen hingga 24 persen pada arus balik selama periode long weekend Mei 2026. Armada yang disusun untuk hari biasa tidak otomatis siap menghadapi lonjakan seperti ini.

Kapal Besar, Bukan Sekadar Kapal Banyak

ASDP sudah bergerak melampaui sekadar menambah unit kapal. Saat antrean 12 kilometer terjadi awal September, perusahaan memilih memaksimalkan kapal berkapasitas besar dan mengerahkan tiga kapal bantuan, bukan menambah kapal kecil dalam jumlah banyak. Pendekatan ini menaikkan volume kendaraan yang terangkut per trip tanpa menambah kepadatan lalu lintas laut di selat sempit itu.

Perusahaan juga memindahkan armada antar lintasan sesuai kebutuhan. KMP Portlink, yang biasa melayani rute Tanjung Wangi-Lembar, dikerahkan ke Ketapang-Gilimanuk untuk memecah konsentrasi kendaraan logistik saat tekanan lalu lintas meningkat. KMP Jatra I bahkan memulai pelayaran perdana di lintasan ini pada dini hari, 8 September 2026, khusus untuk memperkuat kapasitas layanan. Redistribusi semacam ini menunjukkan armada nasional ASDP diperlakukan sebagai satu sistem yang bisa disesuaikan, bukan alokasi tetap per lintasan.

Percepatan waktu sandar menjadi kunci berikutnya. ASDP menerapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) di lintasan ini, sebuah pola operasi yang memangkas jeda antara kapal merapat dan kapal kembali berlayar. Dengan delapan trip per hari untuk 26 kapal yang beroperasi, setiap menit yang dihemat pada proses sandar berkontribusi pada jumlah kendaraan yang bisa diseberangkan dalam sehari.

Data sebagai Alat Cegah, Bukan Sekadar Alat Pantau

Platform tiket digital Ferizy sudah menembus 4 juta pengguna hingga Juli 2026, tumbuh 15,43 persen dari Januari 2026, dan kini berjalan di 62 pelabuhan. Bagi ASDP, capaian ini bukan sekadar angka adopsi. Corporate Secretary ASDP Windy Andale menjelaskan bahwa sistem digital ini membantu perusahaan mengatur arus kendaraan dan penumpang secara lebih terencana, sehingga potensi kepadatan pelabuhan bisa ditekan sejak sebelum penumpang berangkat dari rumah.

Data historis dari Ferizy memungkinkan ASDP memetakan pola lonjakan jauh sebelum terjadi. Menjelang periode Natal dan Tahun Baru, misalnya, perusahaan sudah bisa memprediksi puncak arus di Lembar dan Ketapang akan jatuh pada 20-22 dan 27-29 Desember, dengan arus balik pada 3-5 Januari. Prediksi berbasis data semacam ini mengubah kesiapan armada dari reaksi mendadak menjadi persiapan terjadwal.

Koordinasi lintas pihak melengkapi sistem ini. Petugas gabungan dari kepolisian dan Dinas Perhubungan mengatur rekayasa lalu lintas di jalur darat menuju pelabuhan, sementara ASDP mengaktifkan buffer zone dan menambah personel di titik krusial saat masa mudik. Kebijakan tarif tunggal yang disertai stimulus diskon turut mendorong penumpang membeli tiket lebih awal secara mandiri, sehingga distribusi kedatangan kendaraan ke pelabuhan menjadi lebih tertib dan tidak menumpuk di jam yang sama.

Kapal sebagai Bagian dari Sistem, Bukan Sekadar Alat Angkut

Ketapang-Gilimanuk membuktikan bahwa mengurai antrean memerlukan kombinasi, bukan satu jurus tunggal. Kapal besar menggantikan kapal kecil dalam jumlah banyak. Armada dipindah antar lintasan sesuai beban aktual. Waktu sandar dipangkas lewat pola TBB. Data pemesanan tiket dipakai memprediksi lonjakan, bukan sekadar mencatat penjualan. Petugas lapangan, regulator, dan sistem digital bergerak dalam satu koordinasi.

Kombinasi ini menempatkan kapal sebagai satu komponen dalam sistem logistik dan konektivitas laut nasional yang lebih besar, sejalan dengan peran ASDP memperkuat mobilitas penumpang dan barang di berbagai lintasan penyeberangan Indonesia. Ketika kapasitas dermaga di Ketapang dan Gilimanuk rampung dibangun, formula yang sudah teruji ini akan menentukan apakah antrean belasan kilometer benar-benar berhenti berulang, atau hanya mereda sampai lonjakan berikutnya datang.

Penulis: I Putu Agus Swastika

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Founder

Reporter: bbn/gus



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami