Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Secuil Kisah Nitri, Mantan Ajudan Presiden Soekarno

denpasar

Jumat, 14 September 2012, 20:22 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Ni Luh Putu Sugianitri ( 65  ) merupakan salah satu mantan ajudan Presiden Soekarno asal Bali. Ia pernah mendampingi  Sang Proklamator sebagai pengawal pribadi menjelang peralihan kekuasaan tahun 1965. Kini, masa tua nya lebih sering diisi untuk kegiatan merawat tanaman buah, melukis, dan kegiatan rohani. Bertempat di bilangan Jalan Drupadi 99 X Denpasar, ia kembali berkisah membuka lembaran hitam putih di masa kehidupan Presiden Soekarno yang pernah dialaminya.

Berangkat dari sebuah tekad hidup mandiri dari keluarga yang kurang mampu. Ia termotivasi untuk menjadi seorang Polisi Wanita. Sejak kecil ia diasuh oleh neneknya di Jalan Belimbing, Denpasar. Sementara kedua orang tua nya memilih untuk hidup masing - masing. Peluang untuk menjadi Polisi Wanita didapat dari sebuah informasi surat kabar setelah lulus dari SMP 1 Denpasar. Kesempatan tersebut tidak disia – siakannya.

“Saya memilih untuk menjadi seorang Polisi Wanita karena saya hidup dengan nenek saya. Ibu saya sudah pisah dengan ayah saya, siapa yang menanggung  sekolah saya. Karena saya berpikir, kalau saya sekolah Polisi akan ditanggung oleh Negara“, terangnya.

Kesempatan tersebut rupanya membuahkan hasil, dari  55 orang  yang ikut testing di Bali hanya 5 orang yang lolos dikirim ke Sekolah Kepolisian di Sukabumi. Melalui Polda Bali ia lantas diberangkatkan ke Sukabumi bersama ke empat temannya yang merupakan berasal dari keluarga polisi. Hanya Nitri sendiri bukan berasal dari keluarga polisi. Selama setahun, mereka menjalani pendidikan polisi dengan pangkat Brigadir Polisi.

Sebagai seorang wanita Bali yang  berada  dilingkup Sekolah Kepolisian sering kali tampil membawakan tari Bali dihadapan pejabat dan para menteri. Pementasan yang paling berkesan bagi dia ketika malam ramah tamah menjelang kelulusan dan pembagian ijazah. Malam itu segala kesenian Indonesia ditampilkan, pesertanya merupakan siswa dari Sekolah Kepolisian.

“ Hari itu saya tamat, malamnya mengadakan pesta kesenian. Saya sudah pakai pakaian penari. Mau menari lampu tiba–tiba mati, menteri menghilang. Tahu–tahu G-30S/PKI. Akhirnya tidak jadi menari, acara dibubarkan," kenangnya.

Setelah itu Sekolah Kepolisian berubah nama menjadi Sekolah Akademi Kepolisan mengikuti akademi –akademi militer yang lainnya seperti  Akademi  Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Di sana, Netri banyak melihat perubahan dan akhirnya ia turut dilibatkan langsung dalam pengawalan presiden Soekarno menjelang akhir peralihan kekuasaan.

“Saya mendampingi  beliau setelah G-30S/PKI. Presiden Soekarno ketika itu saya lihat sudah jarang ada kegiatan atau kesibukan Negara. Pagi-pagi biasanya saya menyiapkan sarapan, sesekali pergi jalan –jalan mencari buah rambutan berangkat menggunakan bus dengan ajudan yang lain,“ terangnya.

Ia terakhir berjumpa dengan Presiden Soekarno setelah serah terima jabatan dengan Presiden Soeharto di Istana Negara. Tidak menyangka jika foto dirinya dengan Presiden Seokarno membawa kisah tersendiri sebagai sejarah hidup, sekaligus sebagai buah kenangan tak terlupakan disaat menjadi ajudan Presiden.

“ Kalau saya tidak diminta untuk berfoto dengan beliau, barangkali saya tidak punya bukti  kenangan. Ini beliau yang minta foto bersama dengan saya ketika selesai acara serah terima jabatan “, kenang Nitri sambil memegang foto hitam putih sebagai kenangan bersama Presiden Soekarno.

Ibu tujuh anak dari hasil dua kali perkawinannya bersama almarhum Memet Slamet Djayadipura dan Tugede Parwatha Patra, di usia senjanya tetap memiliki kesibukan . Di atas lahan 1 hektar, ia menghuni rumah semi permanen bertembok setengah dinding dari anyaman bambu. Sebagian besar kegiatannya hanya merawat tanaman jeruk Bali ( Cytrus nobilis ), melukis aliran surealis serta Menjalankan kegiatan Rohani di tempat suci yang ada di lahan kontrakan tersebut. Pura tersebut  merupakan tempat berstananya Ida Ratu Ayu Dalem Ped.

“Jika dulu saya berpakaian polisi lengkap dengan senjata. Kini saya berpakaian putih– putih dalam melakukan persembahyangan. Saya melinggih dari beliau ( Tuhan ) dapat nama Jro Sekar Tunjung. Itu pemberian, bukan saya yang minta“, terangnya.

Selain lahan kontrakan di pakai hunian, beberapa petak juga dimanfaatkannya sebagai tempat melestarikan dua jenis jeruk Bali yang semakin sulit dicari dan semakin punah. Jenis jeruk bali yang ada di pekarangan rumahnya ada 2 jenis yaitu jeruk Bali Saba dan jeruk Bali Bona. Selain sebagai pelestari Jeruk Bali ia juga sebagai Ketua Pelukis Wanita.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami