Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Jaringan Jalan di Bali Ibarat Sakit Jantung Akut
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Persoalan kemacetan lalu lintas di Bali kini semakin parah. Jaringan jalan di Bali saat ini ibarat sakit jantung akut. "Jaringan jalan di Bali itu ibarat orang sakit jantung yang sudah akut, saluran darah dari dan ke jantung mampet semua, maka satu-satunya upaya penyelamatan hanya dengan operasi by pass (membuat saluran baru).
Untuk melakukan operasi itu, orang harus rela dadanya dibelah. Jadi sangat aneh ketika dokter baru mulai membelah tulang dada, ada yang teriak "merusak tubuh","ujar Public Relations Officer PT Jasa Marga Bali Tol, Drajad H Suseno,di Denpasar (16/9/2012).
"Yang penting setelah operasi selesai dan jantung sudah berfungsi, maka dada disambung dikembalikan seperti semula. Itu adalah pengorbanan dan konsekuensi logis yang harus diambil. Seperti halnya pembangunan jalan tol di Bali ini. Ada metode kerja dengan konsekuensi pengurugan sementara, setelah itu baru recovery lingkungan hidup,"imbuhnya.
Pembangunan jalan tol di atas perairan (JDP), kata Drajad, tidak bisa disamakan dengan Bali International Park (BIP) yang gagal didirikan. "Sekarang ini kami justru ngebut ingin segera menyelesaikan. Untuk itu anak-anak bangsa ini perlu diberi ruang dan waktu untuk bisa berkarya, membuktikan kemampuannya, bukan direcokin hal-hal yang nggak perlu. Yang penting komitmen terhadap lingkungan hidup harus dibuktikan setelah jalan tol ini selesai dibangun. Bukan kecurigaan atau mengembangkan pikiran negatif merusak lingkungan. Kalau dia curiga, kami juga bisa curiga, ada motif apa ya kira-kira?" ujar Drajad.
Apa yang disampaikan Drajad ini menanggapi adanya aksi demo dari LSM lingkungan, terkait pembangunan JDP Benoa-Nusa Dua. Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyerukan kepada negara-negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) untuk memboikot pelaksanaan APEC di Bali pada Oktober 2013 mendatang. Walhi menilai Apec 2013 layak diboikot karena pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan APEC mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Koordinator Walhi Wilayah Bali Wayan Gendo Suardana menyebutkan salah satu bukti adalah pembangunan jalan diatas perairan (JDP) yang berada di kawasan hutan bakau Taman hutan rakyat (Tahura) Ngurah Rai. Belum lagi pembangunan JDP tersebut tidak sesuai dengan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal). Sebab sesuai dokumen amdal seharusnya pemasangan tiang pancang JDP di kawasan pasang surut Tahura Ngurah Rai menggunakan kapal ponton, tetapi kenyataanya dilakukan dengan pengurugan atau penimbunan dengan batu kapur.
“Kami mencurigai ada tindakan sistematis untuk mematikan hutan bakau di kawasan tahura ini dan yang paling penting adalah APEC memberikan dampak yang buruk bagi pembangunan Bali, dulu ada Bali International Park yang hingga saat ini gagal didirikan untuk kepentingan APEC, hari ini ada JDP yang dikebut atas nama APEC” jelas Wayan Gendo Suardana (14/9/2012).
Gendo Suardana menegaskan pengurugan dengan batu kapur guna pemancangan tiang JDP di kawasan hutan bakau tidak hanya membuat pohon bakau mati tetapi juga telah mencemari air laut dan menyebabkan kekeruhan sehingga mengganggu ekosistem bakau.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2606 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2262 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan