Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Jaringan Jalan di Bali Ibarat Sakit Jantung Akut
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Persoalan kemacetan lalu lintas di Bali kini semakin parah. Jaringan jalan di Bali saat ini ibarat sakit jantung akut. "Jaringan jalan di Bali itu ibarat orang sakit jantung yang sudah akut, saluran darah dari dan ke jantung mampet semua, maka satu-satunya upaya penyelamatan hanya dengan operasi by pass (membuat saluran baru).
Untuk melakukan operasi itu, orang harus rela dadanya dibelah. Jadi sangat aneh ketika dokter baru mulai membelah tulang dada, ada yang teriak "merusak tubuh","ujar Public Relations Officer PT Jasa Marga Bali Tol, Drajad H Suseno,di Denpasar (16/9/2012).
"Yang penting setelah operasi selesai dan jantung sudah berfungsi, maka dada disambung dikembalikan seperti semula. Itu adalah pengorbanan dan konsekuensi logis yang harus diambil. Seperti halnya pembangunan jalan tol di Bali ini. Ada metode kerja dengan konsekuensi pengurugan sementara, setelah itu baru recovery lingkungan hidup,"imbuhnya.
Pembangunan jalan tol di atas perairan (JDP), kata Drajad, tidak bisa disamakan dengan Bali International Park (BIP) yang gagal didirikan. "Sekarang ini kami justru ngebut ingin segera menyelesaikan. Untuk itu anak-anak bangsa ini perlu diberi ruang dan waktu untuk bisa berkarya, membuktikan kemampuannya, bukan direcokin hal-hal yang nggak perlu. Yang penting komitmen terhadap lingkungan hidup harus dibuktikan setelah jalan tol ini selesai dibangun. Bukan kecurigaan atau mengembangkan pikiran negatif merusak lingkungan. Kalau dia curiga, kami juga bisa curiga, ada motif apa ya kira-kira?" ujar Drajad.
Apa yang disampaikan Drajad ini menanggapi adanya aksi demo dari LSM lingkungan, terkait pembangunan JDP Benoa-Nusa Dua. Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyerukan kepada negara-negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) untuk memboikot pelaksanaan APEC di Bali pada Oktober 2013 mendatang. Walhi menilai Apec 2013 layak diboikot karena pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan APEC mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Koordinator Walhi Wilayah Bali Wayan Gendo Suardana menyebutkan salah satu bukti adalah pembangunan jalan diatas perairan (JDP) yang berada di kawasan hutan bakau Taman hutan rakyat (Tahura) Ngurah Rai. Belum lagi pembangunan JDP tersebut tidak sesuai dengan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal). Sebab sesuai dokumen amdal seharusnya pemasangan tiang pancang JDP di kawasan pasang surut Tahura Ngurah Rai menggunakan kapal ponton, tetapi kenyataanya dilakukan dengan pengurugan atau penimbunan dengan batu kapur.
“Kami mencurigai ada tindakan sistematis untuk mematikan hutan bakau di kawasan tahura ini dan yang paling penting adalah APEC memberikan dampak yang buruk bagi pembangunan Bali, dulu ada Bali International Park yang hingga saat ini gagal didirikan untuk kepentingan APEC, hari ini ada JDP yang dikebut atas nama APEC” jelas Wayan Gendo Suardana (14/9/2012).
Gendo Suardana menegaskan pengurugan dengan batu kapur guna pemancangan tiang JDP di kawasan hutan bakau tidak hanya membuat pohon bakau mati tetapi juga telah mencemari air laut dan menyebabkan kekeruhan sehingga mengganggu ekosistem bakau.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2808 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2033 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1983 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun