Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jaringan Jalan di Bali Ibarat Sakit Jantung Akut

Minggu, 16 September 2012, 21:32 WITA Follow
Beritabali.com

google.com/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Persoalan kemacetan lalu lintas di Bali kini semakin parah. Jaringan jalan di Bali saat ini ibarat sakit jantung akut. "Jaringan jalan di Bali itu ibarat orang sakit jantung yang sudah akut, saluran darah dari dan ke jantung mampet semua, maka satu-satunya upaya penyelamatan hanya dengan operasi by pass (membuat saluran baru).

Untuk melakukan operasi itu, orang harus rela dadanya dibelah. Jadi sangat aneh ketika dokter baru mulai membelah tulang dada, ada yang teriak "merusak tubuh","ujar Public Relations Officer PT Jasa Marga Bali Tol, Drajad H Suseno,di Denpasar (16/9/2012).  

"Yang penting setelah operasi selesai dan jantung sudah berfungsi, maka dada disambung dikembalikan seperti semula. Itu adalah pengorbanan dan konsekuensi logis yang harus diambil. Seperti halnya pembangunan jalan tol di Bali ini. Ada metode kerja dengan konsekuensi pengurugan sementara, setelah itu baru recovery lingkungan hidup,"imbuhnya.

Pembangunan jalan tol di atas perairan (JDP), kata Drajad, tidak bisa disamakan dengan Bali International Park (BIP) yang gagal didirikan. "Sekarang ini kami justru ngebut ingin segera menyelesaikan. Untuk itu anak-anak bangsa ini perlu diberi ruang dan waktu untuk bisa berkarya, membuktikan kemampuannya, bukan direcokin hal-hal yang nggak perlu. Yang penting komitmen terhadap lingkungan hidup harus dibuktikan setelah jalan tol ini selesai dibangun. Bukan kecurigaan atau mengembangkan pikiran negatif merusak lingkungan. Kalau dia curiga, kami juga bisa curiga, ada motif apa ya kira-kira?" ujar Drajad.

Apa yang disampaikan Drajad ini menanggapi adanya aksi demo dari LSM lingkungan, terkait pembangunan JDP Benoa-Nusa Dua. Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyerukan kepada negara-negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) untuk memboikot pelaksanaan APEC di Bali pada Oktober 2013 mendatang. Walhi menilai Apec 2013 layak diboikot karena pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan APEC mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.

Koordinator Walhi Wilayah Bali Wayan Gendo Suardana menyebutkan salah satu bukti adalah pembangunan jalan diatas perairan (JDP) yang berada di kawasan hutan bakau Taman hutan rakyat (Tahura) Ngurah Rai. Belum lagi pembangunan JDP tersebut tidak sesuai dengan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal). Sebab sesuai dokumen amdal seharusnya pemasangan tiang pancang JDP di kawasan pasang surut Tahura Ngurah Rai menggunakan kapal ponton, tetapi kenyataanya dilakukan dengan pengurugan atau penimbunan dengan batu kapur.

“Kami mencurigai ada tindakan sistematis untuk mematikan hutan bakau di kawasan tahura ini dan yang paling penting adalah APEC memberikan dampak yang buruk bagi pembangunan Bali, dulu ada Bali International Park yang hingga saat ini gagal didirikan untuk kepentingan APEC, hari ini ada JDP yang dikebut atas nama APEC” jelas Wayan Gendo Suardana (14/9/2012).

 

 

Gendo Suardana menegaskan pengurugan dengan batu kapur guna pemancangan tiang JDP di kawasan hutan bakau tidak hanya membuat pohon bakau mati tetapi juga telah mencemari air laut dan menyebabkan kekeruhan sehingga mengganggu ekosistem bakau. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/psk



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami