Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Bubur Ledok, Obat Diabet dari Nusa Penida
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Bubur Ledok, begitulah masyarakat Kepulauan Nusa Penida Klungkung menamainnya. Bubur berbahan dasar jagung dan ubi ketela pohon tersebut, dinamai bubur ledok karena dalam pembuatannya harus selalu 'diledok'. Bubur ledok dikenal sebagai obat diabetes dari Nusa Penida.
Ledok dalam bahasa Bali berarti diaduk secara terus menerus selama pembuatannya. Dalam pembuatan ledok, bahan dasar jagung sisir dan ubi ketela pohon yang dipecah kecil-kecil. Tidak jarang juga ditambahkan dengan kacang panjang, kacang merah dan daun kemangi.
Ledok mempunyai 2 jenis bumbu yaitu bumbu dalam dan bumbu luar. Bumbu dalam merupakan bumbu yang dicampurkan saat proses pembuatan. Bumbu dalam tersebut diantaranya terdiri dari garam, terasi, cabe dan bawang putih. Sedangkan untuk bumbu luar adalah bumbu kacang atau bumbu pecel. Dalam penyajiannya, bubur ledok ditambahkan dengan ikan teri goreng, abon ikan laut dan sayur mayur yang disiram dengan bumbu kacang di atasnya.
Ledok biasanya disajikan dalam mangkok dan tidak jarang juga disajikan dengan menggunakan daun pisang yang ditekuk yang biasa disebut dengan tekor. Ledok biasanya dijual di pinggir-pinggir jalan dengan menggunakan gerobak dorong. Juga ada yang menjualnya di pasar ataupun warung-warung tradisional. Satu porsi ledok dihargai Rp. 5000.
Seorang pedagang ledok, Dewa Ayu Putu Margi menyatakan ledok tidak hanya dikenal sebagai makanan khas Nusa Penida. Ledok sejak dulu juga dikenal sebagai obat diabetes. Beberapa orang yang mengidap diabetes setelah makan ledok secara teratur, perlahan kesehatannya membaik.
“Awalnya ingin membuat bubur bagi orang yang katanya diabet, tapi yang tersedia cuma jagung dan ketela pohon, bubur jagung dan ketela pohon. Itu ternyata perlahan membuat orang yang memakannya menjadi sehat, makanya sekarang ledok dipakai sebagai obat diabet,” jelas Dewa Ayu Putu Margi, di Nusa Penida, belum lama ini.
Dari beberapa literatur, umbi singkong atau ketela pohon memiliki kandungan kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C, dan amilum. Sementara Setiap butir kuning jagung mengandung banyak sekali ragam mineral, seperti magnesium, tembaga, besi, dan paling penting fosfor yang diperlukan untuk kesehatan tulang. Nutrisi ini tidak hanya mencegah tulang dari keretakan karena Anda bertambah tua, tapi juga meningkatkan fungsi normal ginjal.
Bagi masyarakat Nusa Penida, Ketela pohon dan jagung merupakan sumber pangan utama karena sulit bagi masyarakat menanam padi. Kondisi tersebut terjadi karena Nusa penida merupakan daerah tandus dan berbatu.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2942 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2015 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun