Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Susu Kambing Jadi Sabun, Sisa Pakan Jadi Formalin Nabati
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Program Simantri dilandasi sebuah itikad baik untuk membangkitkan sektor pertanian di Pulau Dewata. Lebih dari itu, Simantri yang mengedepankan sistem pengelolaan zero waste (tanpa sisa sampah) berkaitan erat dengan upaya mewujudkan Bali sebagai pulau organik. Karena hasil sampingan seperti kotoran dan urine ternak sapi, kambing maupun babi dimanfaatkan habis untuk pupuk, biogas dan biourine.
Dalam sejumlah kesempatan turun ke Simantri, Gubernur Bali Made Mangku Pastika selalu memberi penekanan bahwa Simantri bukan sekedar kegiatan memelihara ternak sapi, babi atau kambing.
“Simantri bukan sekedar memelihara ternak dan hanya mengharapkan hasil penjualannya untuk daging. Kalau hanya sebatas itu, tujuan program ini tak tercapai,” ujar Gubernur dalam sebuah kesempatan. Lebih dari itu, Simantri juga diharapkan mampu menciptakan teknik dan inovasi baru dalam bidang pertanian sehingga peningkatan kesejahteraan petani bisa tercapai.
Harapan Gubernur Mangku Pastika teraktualisasikan secara nyata pada Simantri 067 ini. Kotoran dan urine kambing diolah menjadi pupuk organik dan biourine yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok dalam pengelolaan kebun kopi robusta seluas 110 hektare. Kebetulan, jelas Wardana, secara turun temurun petani setempat memang mengembangkan kopi organik. Bahkan, biourine produksi Simantri ini mulai diminati petani stwaberry di wilayah Pancasari.
Selain itu, pihaknya juga mengolah susu kambing menjadi berbagai produk kecantikan berupa sabun susu padat dan cair. Untuk menciptakan produk ini, Wardana yang berlatar belakang pendidikan sarjana mesin belajar otodidak melalui berbagai website.
“Untuk bisa menciptakan produk yang sudah dipasarkan seperti saat ini, saya harus mencoba sampai delapan kali,” imbuhnya. Perjuangan Wardana kini berbuah manis, selain dipasarkan di seluruh Bali, sabun susu kambingnya kini telah menembus pasar Banyuwangi dan Malang. Dia pun lantas berpromosi kalau sabun produksinya bisa melembutkan dan mencerahkan kulit.
Masih di wilayah Busungbiu, kreatifitas dan inovasi yang tak kalah unik dan bernilai ekonomis juga dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Werdhi Gopala di Desa Pucak Sari. Awalnya, Poktan ini merupakan binaan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Namun sejak tahun 2012 lalu, Poktan ini menjadi sasaran penerima program Simantri. Kelompok Tani yang diketuai Made Widasna ini mempunyai kegiatan mengolah sisa pakan kambing menjadi Formalin Nabati atau Pyrolisa.
Pakan kambing berupa lamtoro biasanya akan menyisakan batang kayu. “Kebiasaan kambing, hanya akan memakan bagian kulit kayu dan daunnya, sehingga tersisa batangnya saja,” paparnya. Sisa pakan berupa batang itulah yang kemudian dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam tungku khusus dan dipanaskan hingga menghasilkan cairan yang disebut Pyrolisa atau Formalin Nabati.
Selain berfungsi sebagai pengawet makanan, belakangan Pyrolisa juga diburu sejumlah warga karena diyakini bisa menghilangkan bekas luka dan gatal. Ditambahkan Widasna, secara ekonomis produksi Pyrolisa cukup menjanjikan. Dalam sehari, satu tungku bisa menghasilkan 6 liter Formalin Cair dengan harga Rp. 60 ribu/liter. Selain itu, pengolahan juga menghasilkan sisa berupa arang yang dihargai Rp. 3.000/kg. “Sekali pengolahan kita menghasilkan 10 Kg arang,” imbuhnya.
Dalam hitung-hitungannya, pengolahan sisa pakan ini sangat menjanjikan. Karenanya Widasna berharap kedepannya lebih banyak lagi bantuan alat berupa tungku khusus. “Kalau pemasaran, sejauh ini tak masalah. Malah kami belum bisa memenuhi semua permintaan karena keterbatasan alat,” pungkasnya.
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3805 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1747 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang