Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Konflik Warga dan Pergeseran Budaya
denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Penglingsir (tokoh) Puri Agung Kesiman Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana menyatakan, konflik antar warga yang kerap terjadi di Bali salah satunya disebabkan oleh pergeseran budaya.
"Konflik yang kerap terjadi saat ini merupakan bagian dari pergeseran budaya. Budaya masyarakat Bali yakni budaya saling menghargai, budaya jujur dan ramah, paras paros, sifat menyama braya, kini sudah mulai bergeser,"ujar Kusuma Wardana, di Nusa Penida, Sabtu (8/6/2013).
Kusuma Wardana mengaku enggan mengomentari konflik antara warga yang kerap terjadi di Bali belakangan ini.
"Saya sebenarnya enggan untuk komentar, apalagi saya tidak diminta untuk memediasi konflik yang muncul. Biar saja pihak-pihak yang bertikai agar sadar," ujarnya.
Konflik, kata Kusuma wardana, sebenarnya bisa diatasi dengan pendekatan budaya. Namun pendekatan budaya ini sekarang sudah mulai ditinggalkan.
"Budaya ini gampang menyebutnya, tapi susah untuk menjalankannya. Budaya itu berasal dari kata budi dan daya. Budi (kesadaran) ini sekarang sudah ditinggalkan, tinggal 'daya'nya saja, 'daya' yang ini artinya suka memperdaya, tenggang rasa sudah mulai pudar. Bedik-bedik mesiat (sedikit-sedikit berkelahi)," ujarnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2936 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2013 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun