Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bali Layak Jadi Contoh Pengembangan Toleransi

Denpasar

Sabtu, 16 November 2013, 19:26 WITA Follow
Beritabali.com

google/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Bali identik dengan berbagai sebutan, mulai dari Pulau Dewata, Pulau Surga, Pulau Perdamian dan Pulau Cinta. Keterbukaan dan keramahan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu menyebabkan umat beragama lain merasa nyaman berkunjung maupun tinggal di Bali.

“toleransi di Bali masih sangat cukup bagus, saya kira Bali layak menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia dalam pengembangan toleransi” demikian kata Bhikkhu Tejanando saat ditemui di Denpasar pada Sabtu Siang Bhikkhu Tejanando mengungkapkan dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia semangat toleransi masyarakat Bali jauh lebih bagus. Apalagi masyarakat Bali sangat terbuka, bukan saja terhadap sesame masyarakat Indonesia tetapi juga terbuka terhadap setiap orang yang datang ke Bali termasuk wisatawan.

“ siapapun yang datang ke Bali tidak merasa dibeda-bedakan, ini yang menjadi titik tolak toleransi berjalan dengan baik” ungkap Bhikkhu Tejanando Toleransi yang terjadi di Bali sudah berjalan sejak jaman dahulu.

Buktinya cukup banyak pura di Bali yang tidak hanya menjadi tempat persembahyangan bagu umat Hindu, tetapi juga umat-umat lainnya. Sebut saja salah satunya Pura Ulundanu Batur. Dimana didalam pura terdapat klenteng yang sering digunakan oleh umat Budha, Konghucu dan Tao untuk bersembahyang.

“ yang penting kita bisa tetap nyaman ke tempat itu, tetapi yang terpenting umat Hindu tidak merasa terganggu dalam melakukan persembahyangan,” paparnya.

Bhikkhu Tejanando berharap toleransi yang ada di Bali tetap terjaga, sehingga konflik dapat terhindarkan. Pemerintah tidak perlu lagi membuat aturan baru yang hanya akan menyebabkan terjadinya sekat antar umat beragama. Hal yang terpenting adalah tetap terjalinnya komunikasi sehingga saling pengertian itu tetap ada.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Ngurah Sudiana memaparkan rekatnya kerukunan yang terbangun di Bali selama ini karena filosofi yang terbangun di Bali yaitu Bali tidak mengenal penghancuran terhadap kepercayaan lain walaupun berbeda.

“dan juga kebudayaan Bali dalam religiusnya tidak pernah menghancurkan kepercayaan lain, justru menghidupkan kepercayaan baru yang cocok bagi kondisi daerahnya kondisi budayanya, oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau Pura-Pura di pegunungan di Kintamani , termasuk di Pura Besakih ada pelinggih (bangunan) ratu Subandar. ratu Subandar itu di yakini sebagai Dewa yang memberikan banyak rejeki” kata Ngurah Sudiana.

Menurut Sudiana, konsep memuja Tuhan dengan berbagai nama yang sebenarnya memudahkan terjadinya alkuturasi budaya dan agama terjadi di Bali. Sudiana berharap perbedaan yang ada tidak perlu lagi dipertentangkan, apalagi perbedaan yang ada telah mampu hidup berdampingan secara damai dan tentram.

“di Bali dalam konsep Hindu ada kepercayaan memuja tuhan dengan berbagai nama , manifestasinya namanya bermacam-macam ada Dewi Laksmi, Dewi Sri, Dewi Uma, Dewi Durga, Dewi Subandar, ratu Subandar, Dewi Danu dan sebagainnya , ada Dewa Brahma, Wisnu dan sebagainnya , dari sanalah dia masuk,” jelasnya. (mlt)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami