Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Kwik Sebut Premium Rp 6.500 Pemerintah Sudah Untung
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Ekonom Kwik Kian Gie mengatakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi adalah pembohongan publik. Ini didasari atas keuntungan pemerintah dari bensin premium 1 barel = 159 liter1 USD = Rp12.000.
Menurut Kwik Kian Gie, biaya untuk mengangkat minyak dari perut bumi (lifting) + biaya pengilangan (refining) + biaya transportasi rata-rata ke semua pompa bensin adalah 10 USD, atau jika dalam rupiah 10 : 159 x 12.000 = Rp754,7 dibulatkan = Rp755/liter.
"Jadi sebenarnya dengan menjual premium Rp6.500 per liter, pemerintah sudah untung sebesar 6.500 - 755= Rp5.745/liter. Sekarang tinggal dikalikan berapa liter kebutuhan dalam negeri, itulah 'keuntungan' yang diperoleh pemerintah dari hasil jualan bensin premium pada rakyatnya sendiri!"
Minyak dari perut bumi sendiri dan menurut UUD 1945 pasal 33 menyebutkan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya tidak ada yang gratis alias rakyat disuruh membeli.
"Sekarang pemerintah mau ambil untung berapa rupiah lagi dengan menaikkan BBM? Subsidi itu ada kalau pemerintah merugi, artinya harus nombokin," tandasnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2934 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2012 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun