Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Pemprov Bali Gagal Lakukan Penanggulangan Kasus Rabies

Jumat, 28 November 2014, 17:47 WITA Follow
Beritabali.com

bbcom/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Pemerintah Provinsi Bali gagal melakukan upaya penanggulangan rabies selama periode 2008 hingga 2014. Kegagalan penanggulangan rabies tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Siswa SMA Negeri 3 Denpasar Ni Putu Putri Chandra Paramita. 

Dalam penelitian berbasis pemanfaatan Google Earth digambarkan hubungan pola dan kecepatan penyebaran rabies  serta kegagalan penanggulangan rabies di Bali. Penelitian yang dilakukan sejak 11 Juli 2014 hingga 31 Juli 2014  menggunakan metode studi dokumentasi dan analisis media. Guna melengkapi data penelitia juga menggunakan data-data Dinas Kesehatan Bali, Dinas Peternakan Bali  dan data media Koran serta online selama rentang 2008 hingga 2014. 

“Akan sangat sulit mewujudkan Bali bebas rabies, target Bali bebas rabies 2015 juga sulit terwujud,” kata Ni Putu Putri Chandra Paramita dalam keteranganya di Denpasar (28/11/2014).

Paramita mengungkapkan dengan menggunakan aplikasi goggle earth terlihat sangat jelas bahwa upaya penanggulangan rabies di Bali berupa vaksinasi massal dan eleminasi hewan penular tidak sejalan dengan pola dan kecepatan  penyebaran rabies di Bali. Secara rata-rata kecepatan penyebaran rabies tahun 2008-2014 berkisar antara 0,013 km/jam sampai 1,85 km/jam. Sedangkan kecepatan penanggulanganya sangat lambat dan cenderung menunggu kegiatan vaksinasi masal. 

“Kalau kecepatan vaksinasi sulit kita ukur karena aksinya baru terlihat ketika ada vaksinasi masal. Padahal daya jelajah anjing bisa mencapai 20 km/jam” ungkap Paramita.

Paramita menjelaskan bahwa pola penyebaran rabies di Bali diawali dengan munculnya kasus di Sanur, Kota Denpasar. Setelah Sanur kemudian menyebar ke selatan. Sedangkan beberapa kasus bergerak ke utara menuju Karangasem.

Penularan dari Sanur dan Unggasan mengarah ke Barat menuju Tabanan, kemudian ke utara menuju Bangli, Buleleng, Gianyar dan Klungkung. Kasus karangasem menyebar ke barat menuju Bangli dan Buleleng. Sementara arah selatan menuju Klungkung dan Gianyar. Kemudian kedua jalur sebaran ini bertemu di Jembaran.

Menurut Paramita, Kasus rabies pertama di Bali muncul di Sanur yaitu di Perumahan Kutat Lestari pada 1 Juni 2008. Virus rabies dari sanur kemudian menular ke Unggasan Bukit Jimbaran. Setelah diakumulasi kecepatan penularan rabies pada 2008 triwulan II sebesar 0,086 km/jam atau 2,1 km/jam. Namun yang muncul di media kasus rabies pertama kali muncul di Unggasan. 

“Kasus pertama itu di Sanur, namun kasus Ungasan dikatakan muncul duluan karena korban yang meninggal yang lebih awal yang di Unggasan” kata Paramita.

Paramita menambahkan upaya penanggulangan rabies terlihat serius dengan diglontorkanya dana penanggulangan yang mencapai puluhan miliar rupiah. Kenyataanya hingga tahun 2014 korban positif rabies terus bertambah.

Walaupun dana penanggulangan cukup besar tetapi upaya vaksinasi masal dan eleminasi tidak serius dan tidak efektif mulai tahun 2010-2011 dan periode 2013-2014. Sedangkan vaksinasi masal dan eleminasi pada hewan penular hanya efektif pada tahun 2012.

Sedangkan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali bIr. I Putu Sumantra menyatakan belum menerima hasil penelitian tersebut. Selain itu tidak mengetahuai cara analisis yang digunakan oleh peneliti. Memang harus diakui bahwa potensi penyebaran rabies masih ada. Salah satu permasalahnnya adalah masih banyak masyarakat yang membuang anak anjing yang tidak disukai secara sembarangan. 

“Masyarakat masih belum mau mengikuti program yang kita anjurkan, sehingga anak anjing yang terbuang dan tidak divaksin berpotensi menularkan,” tegas Sumantra.

Menurut Sumantra, permasalahan lainnya masih ada persepsi yang salah. Persepsi  tersebut menyebutkan bahwa anjing yang telah tervaksinasi akan bebas rabies. Padahal kalau anjing sudah terinfeksi akan sulit bebas rabies walaupun kemudian di vaksinasi. Sementara pada saat ini masih cukup banyak anak anjing yang dibuang sembarangan dan masih bayak juga anjing yang hidup liar, terutama di hutan-hutan. Guna mewujudkan Bali bebas rabies maka perlu dukungan dari desa adat untuk membuat awig-awig terkait pemeliharaan anjing. “Ini kita harapkan masing-masing desa adat membuat awig-awig terkait pemeliharaan anjing,” papar Sumantra.

Sumantra memprediksikan jumlah populasi anjing di Bali saat ini mencapai 400.000 ekor. Sedangkan populasi yang sudah tervaksinasi mencapai 350.000 ekor. Jadi masih ada sekitar 50.000 ekor yang liar dan belum tervaksin.

“Kalaupun populasi yang belum tervaksinasi hanya 5 persen tetapi kalau dia liar dan terinfeksi maka akan sangat sulit melakukan penanggulangan penyebaran rabies,” tegas Sumantra.

Sumantra menambahkan sejak Januari 2014 hingga November 2014 jumlah kasus rabies pada anjing yang terdeteksi di Bali mencapai 117 kasus. Kasus terbanyak di Kabupaten Karangasem dengan 24 kasus dan Buleleng 23 kasus.

Sementara berdasarkan data Dinas Kesehatan Bali menunjukkan selama 2008 hingga Juli 2014 terdapat 152 korban jiwa akibat rabies.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami