Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Ribuan Pamedek Ikuti Pamendak Agung Barong di Catus Pata Gianyar
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti Catus Pata Kota Gianyar, Selasa (28/7/2026), saat ribuan pamedek dan pangiring dari berbagai daerah mengikuti prosesi sakral pamendak agung lan pacepukan patapakan barong. Ritual adat tersebut merupakan bagian dari rangkaian piodalan di Pura Dalem Serongga yang setiap tahunnya menjadi momentum penting dalam mempererat ikatan spiritual masyarakat Bali.
Sejak pukul 05.00 WITA, iring-iringan patapakan barong telah berjalan kaki dari desa masing-masing menuju titik kumpul di Catus Pata Kota Gianyar. Meskipun hujan deras mengguyur kawasan tersebut, semangat para pamedek dan pangiring tetap tinggi untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara.
Setibanya di Catus Pata, prosesi pacepukan dilaksanakan secara bergantian. Dalam suasana yang khusyuk, sejumlah pangiring tampak mengalami trance (kerauhan) sebagai bagian dari prosesi spiritual yang menyertai ritual tersebut.
Usai pacepukan, seluruh pemangku patapakan bersama Pangelingsir Puri Agung Gianyar melaksanakan bakti pamendak agung. Selanjutnya, seluruh patapakan barong bergerak bersama menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti puncak pujawali yang bertepatan dengan Hari Raya Purnama.
Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang juga merupakan Pangelingsir Puri Agung Gianyar, turut hadir memimpin prosesi bakti pamendakan agung bersama para pemangku dan pamedek.
Jero Bandesa Adat Serongga, Pande Made Sudarsana, menjelaskan bahwa tahun ini terdapat delapan patapakan barong yang tedun lunga menuju Pura Dalem Serongga. Patapakan tersebut berasal dari Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung sebagai simbol eratnya hubungan pasemetonan antardesa adat.
Patapakan dari Gianyar berasal dari Serongga, Siangan, Lebih, dan Tedung, sedangkan dari Klungkung berasal dari Desa Adat Tusan, Sari Mertha, dan Tojan.
"Usai prosesi pacepukan dan pamendak agung, seluruh patapakan barong menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti puncak pujawali yang berlangsung bertepatan dengan hari raya Purnama. Rangkaian karya berlanjut hingga umanis wali dengan pementasan seni sakral penyalonarangan selama tiga hari berturut-turut, di mana seluruh patapakan barong akan katurang napak siwi dan masolah," ungkap Pande Sudarsana.
Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Serongga, Jro Mangku I Made Merta Nadi, menjelaskan bahwa piodalan di pura tersebut dilaksanakan setiap nemu purnama setelah Hari Raya Kuningan. Tradisi pamendak agung dan pacepukan memiliki makna mendalam dalam menjaga persatuan umat Hindu dan memperkuat hubungan antarpasemetonan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Makna utama nuwur ketuwur dan pacepukan ini adalah memperkuat gendu rasa serta paiketan pasemetonan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tapakan barong maupun rangda menjadi simbol keyakinan yang mempersatukan masyarakat lintas desa adat," tutur Jro Mangku Merta Nadi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan