Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Upacara dan Adat Bali Semestinya Membahagiakan, Bukan Memberatkan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Upacara agama dan adat yang dilaksanakan di Bali semestinya dapat membawa kebahagiaan bagi umat Hindu, bukan sebaliknya memberatkan, apalagi membuat krama kurang mampu makin tak berdaya.
Untuk itu, upaya pembinaan perlu terus dilakukan para pemuka agama dan lembaga terkait agar krama atau warga Bali tak terjebak dengan kesan jor-joran dalam melaksanakan ritual. Adat diharapkan lebih fleksibel terhadap krama agar tak sampai menghilangkan mata pencaharian yang bersangkutan.
Demikian antara lain pokok-pokok pikiran sejumlah narasumber dalam dialog bertajuk 'Apakah Upacara Agama Mempengaruhi Kemiskinan di Bali?' yang digelar Biro Humas Setda Provinsi Bali di Aula Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Kamis (8/1/2015).
Gubernur Bali Made Pastika dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa pertanyaan tentang pengaruh upacara terhadap kemiskinan di Bali telah lama muncul di benaknya. Dia yakin pertanyaan serupa juga muncul di benak banyak orang, namun tak berani mengungkapkan karena dianggap tabu dan sangat sensitif.
"Pertanyaan semacam ini telah lama muncul, namun belum ada yang berani mengangkatnya dalam acara dialog semacam ini," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya tergerak menggagas sebuah dialog yang membahas isu ini. Dia berharap, sejumlah tokoh yang dihadirkanmemberi sumbangsih pemikiran terkait langkah apa yang perlu dilakukan menyikapi hal tersebut.
"Kita tidak mencari pendapat yang benar dan salah, tetapi lebih kepada sumbangan pemikiran agar ke depannya Bali menjadi lebih baik," ujarnya.
Ketut Wiana selaku perwakilan dari PHDI Pusat menyoroti masih kurang pahamnya krama hindu akan upacara yang mereka laksanakan. "Krama kita aktif luar biasa dalam upacara, namun tak tahu apa maknanya," ujarnya.
Akhirnya, krama Hindu di Bali cenderung sibuk 'bertanding' untuk menggelar upacara yang besar. Padahal mengacu tatwa, upacara bermakna ‘melayani’ untuk mendekatkan diri dengan alam dan sesama. Jangan sebaliknya, dengan alasan bhakti, manusia justru merusak alam dan membuat sesamanya susah.
"Misalnya saat upacara, nutup jalan. Itu menyusahkan orang lain," imbuhnya. Yang lebih ironis lagi, sejumlah krama terpaksa meninggalkan pekerjaan karena tuntutan adat.
Untuk itu, Wiana mendesak adanya reformasi dan evaluasi terhadap penomena ini. Kata dia, upacara dan adat hendaknya membahagiakan, bukan memberatkan.
Selanjutnya I Gusti Ngurah Made Ngurah selaku petajuh MUDP menyoroti pembiasan dalam pelaksanaan upacara agama. Dia mencontohkan, upacara yang bisa dilaksanakan satu hari, diperpanjang jadi tiga hari sehingga menyita waktu krama. Selain itu, upacara yang hanya membutuhkan satu ekor babi berkembang menjadi puluhan ekor karena kebiasaan membagikan dengan krama. Menurutnya, pembiasan semacam inilah yang mesti diluruskan agar krama tak terbebani dengan pelaksanaan upacara.
Reporter: bbn/eng
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5932 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan