Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Upacara dan Adat Bali Semestinya Membahagiakan, Bukan Memberatkan

Kamis, 8 Januari 2015, 17:59 WITA Follow
Beritabali.com

bbcom/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Upacara agama dan adat yang dilaksanakan di Bali semestinya dapat membawa kebahagiaan bagi umat Hindu, bukan sebaliknya memberatkan, apalagi membuat krama kurang mampu makin tak berdaya. 

Untuk itu, upaya pembinaan perlu terus dilakukan para pemuka agama dan lembaga terkait agar krama atau warga Bali tak terjebak dengan kesan jor-joran dalam melaksanakan ritual. Adat diharapkan lebih fleksibel terhadap krama agar tak sampai menghilangkan mata pencaharian yang bersangkutan. 

Demikian antara lain pokok-pokok pikiran sejumlah narasumber dalam dialog bertajuk 'Apakah Upacara Agama Mempengaruhi Kemiskinan di Bali?' yang digelar Biro Humas Setda Provinsi Bali di Aula Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Kamis (8/1/2015).

Gubernur Bali Made Pastika dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa pertanyaan tentang pengaruh upacara terhadap kemiskinan di Bali telah lama muncul di benaknya. Dia yakin pertanyaan serupa juga muncul di benak banyak orang, namun tak berani mengungkapkan karena dianggap tabu dan sangat sensitif. 

"Pertanyaan semacam ini telah lama muncul, namun belum ada yang berani mengangkatnya dalam acara dialog semacam ini," ujarnya. 

Untuk itu, pihaknya tergerak menggagas sebuah dialog yang membahas isu ini. Dia berharap, sejumlah tokoh yang dihadirkanmemberi sumbangsih pemikiran terkait langkah apa yang perlu dilakukan menyikapi hal tersebut. 

"Kita tidak mencari pendapat yang benar dan salah, tetapi lebih kepada sumbangan pemikiran agar ke depannya Bali menjadi lebih baik," ujarnya.

Ketut Wiana selaku perwakilan dari PHDI Pusat menyoroti masih kurang pahamnya krama hindu akan upacara yang mereka laksanakan. "Krama kita aktif luar biasa dalam upacara, namun tak tahu apa maknanya," ujarnya. 

Akhirnya, krama Hindu di Bali cenderung sibuk 'bertanding' untuk menggelar upacara yang besar. Padahal mengacu tatwa, upacara bermakna ‘melayani’ untuk mendekatkan diri dengan alam dan sesama. Jangan sebaliknya, dengan alasan bhakti, manusia justru merusak alam dan membuat sesamanya susah. 

"Misalnya saat upacara, nutup jalan. Itu menyusahkan orang lain," imbuhnya. Yang lebih ironis lagi, sejumlah krama terpaksa meninggalkan pekerjaan karena tuntutan adat. 

Untuk itu, Wiana mendesak adanya reformasi dan evaluasi terhadap penomena ini. Kata dia, upacara dan adat hendaknya membahagiakan, bukan memberatkan.

Selanjutnya I Gusti Ngurah Made Ngurah selaku petajuh MUDP menyoroti pembiasan dalam pelaksanaan upacara agama. Dia mencontohkan, upacara yang bisa dilaksanakan satu hari, diperpanjang jadi tiga hari sehingga menyita waktu krama. Selain itu, upacara yang hanya membutuhkan satu ekor babi berkembang menjadi puluhan ekor karena kebiasaan membagikan dengan krama. Menurutnya, pembiasan semacam inilah yang mesti diluruskan agar krama tak terbebani dengan pelaksanaan upacara.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/eng



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami