Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mpu Siwa Budha : Teluk Benoa Kawasan Suci Tak Bisa Disangkal

Senin, 2 November 2015, 21:00 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Pengelingsir Sulinggih di Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, yang juga Wakil Dharma Adhyaksa Sabha Pandita PHDI Pusat, Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita, menyatakan, Teluk Benoa adalah kawasan suci, dan itu tidak bisa disangkal.
 
Hal ini disampaikan Mpu Siwa Budha saat ditanya soal desakan agar Sabha Pandita menolak Reklamasi Teluk Benoa. Mpu Siwa Budha menegaskan, Tim 9 Sulinggih sudah dibentuk dan mempersilakan Tim bekerja secara profesional, dengan wiweka  yang ada pada beliau. 
 
‘’Kami yakin, Sabha Pandita akan memutuskan yang paling sesuai untuk melindungi Kesucian Teluk Benoa, karena tak ada secuil pun alasan untuk menyangkal bahwa Teluk Benoa merupakan Kawasan Suci. Tim 9 Sulinggih perlu masukan dan pijakan yang lebih meyakinkan lagi, karenanya mereka sangat hati-hati,’’ katanya.
 
Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita juga menyatakan, tidak benar tak ada kaitan antara Reklamasi Teluk Benoa dengan agama dan budaya. Sebab dalam tiap jengkal tanah dan ruang di Bali, agama dan budaya mengalir memberi nafas. 
 
Nilai-nilai agama itu tersebar dalam sejumlah kearifan lokal. Diantaranya konsep Tri Hita Karana, Asta Kosala, Asta Kosali, Asta Bumi, Sad Kahyangan, Dang Kahyanngan, Tri Kahyangan, Pengider Bhuana, Dewata Nawa Sanga, serta Bhisama-bhisama tentang tempat suci maupun kawasan suci Mata Air, Danau, Sungai, Pantai, Campuhan, Catus Pata, dan lain-lain. 
 
"Orang Hindu juga menghormati semua makhluk dan isi alam, diantaranya diwujudkan dalam ritual untuk hewan (Tumpek Krulut), tanaman (Tumpek Wariga), serba senjata dan perabotan kerja (Tumpek Landep), dan lain-lain. Semua itu menggambarkan adanya kaitan erat antara tindakan manusia membangun segala sesuatu di alam ini, yang visinya merujuk kearifan lokal Bali yang sangat sarat dengan agama dan budaya," ujar Mpu Siwa Budha.
 
 
Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita menyatakan hal itu, ketika ditanya kaitan antara pembangunan dengan agama dan budaya di Bali. 
 
Pernyataan ini berbalik dengan pernyataan Ida Mpu Jaya Premananda, di beberapa media di Bali. Mpu Premananda menyatakan, tidak ada kaitan antara Reklamasi dengan agama dan budaya. Beliau memisahkan dengan tegas proyek besar yang sedang memantik polemik itu dengan wacana dari Sabha Walaka Parisada, yang melalui Pasamuhan Sabha Walaka PHDI 10-11 Oktober lalu memutuskan untuk mengusulkan Teluk Benoa sebagai Kawasan Suci. Sebab, berdasarkan kajian sastra, di kawasan itu berdiri sejumlah Pura, Loloan, Campuhan, pantai, yang disucikan umat Hindu.
 
‘’Kalau pembangunan tak berhubungan dengan agama dan budaya di Bali, bagaimana mewujudkannya? Karena tiap membangun apapun, Hindu di Bali tak lpas dari  doa serta puja-puja, banten, pemangku, sulinggih, saat digelar  upakacara memakuh serta mlaspas,’’ imbuh Mpu Siwa Budha.
 
Karena itu, pembangunan apapun, termasuk reklamasi Teluk Benoa, pasti ada hubungan dengan agama Hindu dan budaya Bali. Karena, bila dirujuk dari Keputusan No. 11/Kep/PHDI tentang Bhisama Kesucian Pura, kawasan suci menurut bhisama tersebut adalah kawasan suci gunung, danau, sungai, campuhan, pantai, laut. Di Perda No. 16/2009 tentang RUTRWP, konsep ini diadopsi, sehingga tiap jengkal tata ruang di Bali bernafaskan agama Hindu dan budaya Bali.[bbn/rls/*]
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami