Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Mpu Siwa Budha : Teluk Benoa Kawasan Suci Tak Bisa Disangkal
Senin, 2 November 2015,
21:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Pengelingsir Sulinggih di Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, yang juga Wakil Dharma Adhyaksa Sabha Pandita PHDI Pusat, Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita, menyatakan, Teluk Benoa adalah kawasan suci, dan itu tidak bisa disangkal.
Hal ini disampaikan Mpu Siwa Budha saat ditanya soal desakan agar Sabha Pandita menolak Reklamasi Teluk Benoa. Mpu Siwa Budha menegaskan, Tim 9 Sulinggih sudah dibentuk dan mempersilakan Tim bekerja secara profesional, dengan wiweka yang ada pada beliau.
‘’Kami yakin, Sabha Pandita akan memutuskan yang paling sesuai untuk melindungi Kesucian Teluk Benoa, karena tak ada secuil pun alasan untuk menyangkal bahwa Teluk Benoa merupakan Kawasan Suci. Tim 9 Sulinggih perlu masukan dan pijakan yang lebih meyakinkan lagi, karenanya mereka sangat hati-hati,’’ katanya.
Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita juga menyatakan, tidak benar tak ada kaitan antara Reklamasi Teluk Benoa dengan agama dan budaya. Sebab dalam tiap jengkal tanah dan ruang di Bali, agama dan budaya mengalir memberi nafas.
Nilai-nilai agama itu tersebar dalam sejumlah kearifan lokal. Diantaranya konsep Tri Hita Karana, Asta Kosala, Asta Kosali, Asta Bumi, Sad Kahyangan, Dang Kahyanngan, Tri Kahyangan, Pengider Bhuana, Dewata Nawa Sanga, serta Bhisama-bhisama tentang tempat suci maupun kawasan suci Mata Air, Danau, Sungai, Pantai, Campuhan, Catus Pata, dan lain-lain.
"Orang Hindu juga menghormati semua makhluk dan isi alam, diantaranya diwujudkan dalam ritual untuk hewan (Tumpek Krulut), tanaman (Tumpek Wariga), serba senjata dan perabotan kerja (Tumpek Landep), dan lain-lain. Semua itu menggambarkan adanya kaitan erat antara tindakan manusia membangun segala sesuatu di alam ini, yang visinya merujuk kearifan lokal Bali yang sangat sarat dengan agama dan budaya," ujar Mpu Siwa Budha.
Ida Padita Mpu Siwa Budha Dhaksa Dharmita menyatakan hal itu, ketika ditanya kaitan antara pembangunan dengan agama dan budaya di Bali.
Pernyataan ini berbalik dengan pernyataan Ida Mpu Jaya Premananda, di beberapa media di Bali. Mpu Premananda menyatakan, tidak ada kaitan antara Reklamasi dengan agama dan budaya. Beliau memisahkan dengan tegas proyek besar yang sedang memantik polemik itu dengan wacana dari Sabha Walaka Parisada, yang melalui Pasamuhan Sabha Walaka PHDI 10-11 Oktober lalu memutuskan untuk mengusulkan Teluk Benoa sebagai Kawasan Suci. Sebab, berdasarkan kajian sastra, di kawasan itu berdiri sejumlah Pura, Loloan, Campuhan, pantai, yang disucikan umat Hindu.
‘’Kalau pembangunan tak berhubungan dengan agama dan budaya di Bali, bagaimana mewujudkannya? Karena tiap membangun apapun, Hindu di Bali tak lpas dari doa serta puja-puja, banten, pemangku, sulinggih, saat digelar upakacara memakuh serta mlaspas,’’ imbuh Mpu Siwa Budha.
Karena itu, pembangunan apapun, termasuk reklamasi Teluk Benoa, pasti ada hubungan dengan agama Hindu dan budaya Bali. Karena, bila dirujuk dari Keputusan No. 11/Kep/PHDI tentang Bhisama Kesucian Pura, kawasan suci menurut bhisama tersebut adalah kawasan suci gunung, danau, sungai, campuhan, pantai, laut. Di Perda No. 16/2009 tentang RUTRWP, konsep ini diadopsi, sehingga tiap jengkal tata ruang di Bali bernafaskan agama Hindu dan budaya Bali.[bbn/rls/*]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4645 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2612 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2268 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026