Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Kisah Penculikan Gubernur Bali, Sutedja, 1966 (3) : Hilang Diculik Saat Presiden Soekarno Jadi Tahanan Rumah
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pukul 22.30 WIB, 29 Juli 1966, kecurigaan pihak keluarga mulai muncul. Tepat pukul 23.00 WIB, AA Istri Ngurah Sunitri dan Drs M.A.E Sutedja (staf kementerian pertanian) membuat laporan tertulis untuk disampaikan ke sejumlah pihak terkait, sehubungan dengan hilangnya Gubernur Bali AA Bagus Sutedja.
Pihak keluarga langsung menduga Gubernur Bali Sutedja memang diculik TNI AD ke suatu tempat di Jakarta yang tidak diketahui untuk dibunuh.
AA Sunitri langsung melapor kepada Presiden Soekarno yang sudah berstatus tahanan rumah terhitung 3 Oktober 1965 oleh Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen TNI Soeharto di Istana Negara Bogor.
Presiden Soekarno mengaku tidak pernah memanggil Gubernur Sutedja. Kementerian dalam negeri dan kantor DPA memberi jawaban yang sama.
Kantor Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka justru mengaku tidak pernah menjadwalkan berkoordinasi dengan Gubernur Bali.
Nama Kapten Teddy yang disebut empat penjemput Gubernur Sutedja, juga tidak dikenal di Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka. Nomor jeep militer yang dipakai menjemput juga tidak tercatat di Garnizun.
Pihak keluarga akhirnya menyadari Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja orang dekat Presiden Soekarno, telah menjadi salah satu korban kriminalisasi politik.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3317 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 785 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 726 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan