Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Kehidupan Murid Sekolah Rakyat (SR) di Bali Tahun 1930-an
Rabu, 8 Juni 2016,
06:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Beritabali.com, Denpasar. Sebelum bernama Sekolah Dasar atau SD seperti saat ini, dulu pendidikan dasar di Indonesia dikenal dengan sebutan Sekolah Rakyat atau SR. Bagaimana gambaran kehidupan para murid Sekolah Rakyat tempo dulu saat pergi ke sekolahnya ?
Gambaran tentang kehidupan murid Sekolah Rakyat (SR) tempo dulu ini antara lain terdapat dalam buku : "Biografi Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian, Drs. I Nyoman Sirna MPH", yang ditulis Indrawati Muninjaya. Buku ini menceritakan kehidupan seorang tokoh bernama, Nyoman Sirna, yang lahir 25 Juni 1925 di Desa Penyaringan, Jembrana, Bali.
Memasuki usia 9 tahun atau sekitar tahun 1934, ayah Nyoman yang bernama Wayan Raos, menyekolahkannya di Sekolah Rakyat di Desa Tegalcangring, Jembrana.
Dari rumahnya di Penyaringan, untuk bersekolah ke Tegalcangring jaraknya cukup jauh untuk ukuran anak anak. Hari pertama sekolah, Nyoman diantar ayahnya hingga jam pulang.
Hari kedua, Nyoman pergi sekolah sendiri dengan berjalan kaki. Agar tidak terlambat sekolah, Nyoman harus bangun tidur saat subuh.
Setelah bangun pagi, Nyoman mandi di selokan atau saluran irigasi di dekat rumahnya. Di sana airnya selalu jernih.
Sebelum berangkat, Nyoman akan ke dapur dan mengambil "tekor" (daun pisang yang dilipat sehingga menyerupai piring) yang sudah berisi nasi serta lauk pauknya. Bekal itu disipakan ibunya yang sudah bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan.
Di lain waktu Nyoman bangun lebih pagi. Nyoman suka mandi di sungai dalam perjalanan ke sekolah, karena air sungainya lebih besar dan airnya cukup deras. Ia bisa berenang dan menyelam.
Di perjalanan, Nyoman akan bergabung dengan anak-anak lainnya. Semuanya berjalan kaki sambil makan nasi di tekor. Apabila nasi sudah habis, mereka akan berhenti sebentar dan minum air mentah di kali atau saluran irigasi. Airnya jernih, sejuk dan segar.
Sayangnya anak-anak perempuan waktu itu tidak semuanya mau bersekolah. Hanya anak perempuan yang mau saja pergi sekolah. Kebanyakan anak perempuan tinggal di rumah, membantu orang tua mereka bekerja di dapur, di tegalan, atau sawah.[bbn/psk]
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3772 Kali
02
03
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1712 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026