Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 30 Oktober 2026
Rokok Rp 50 Ribu Per Bungkus, Hati-hati Pak Jokowi
Minggu, 21 Agustus 2016,
05:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Apabila Pemerintahan Jokowi-JK benar-benar menelorkan kebijakan harga rokok tinggi, masalah baru bakal muncul. Jadi, pemerintah sebaiknya berhati-hati.
Demikian disampaikan Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun terkait beredarnya kabar bahwa pemerintah akan mengerek naik harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus.
"Pemerintah agar hati-hati, jangan terjebak oleh kampanye anti rokok yang mungkin saja dikendalikan oleh kepentingan asing," kata Kader Muda Golkar ini di Jakarta, Sabtu (20/8/2016).
Menurut politisi asal Pasuruan, Jawa Timur ini, jika harga rokok dinaikkan menjadi Rp50.000 per bungkus, maka banyak industri rokok tutup. Artinya, pengangguran bisa melonjak sampai puluhan ribu bahkan jutaan dalam sekejap.
Suka atau tidak, kata Misbakhun, industri rokok, baik golongan industri kecil, menengah, maupun besar bakal terpukul jika wacana tersebut jadi diterapkan pemerintahan Jokowi-JK.
"Industri rokok golongan kecil dan menengah saat ini sudah terpuruk dengan kebijakan pita cukai yang kurang melindungi kepentingan mereka, sehingga sudah banyak yang bangkrut," katanya.
Menurutnya, jika industri rokok banyak yang gulung tikar, maka jutaan pengangguran bertambah. Termasuk petani tembakau harus menanggung kerugian, pada akhirnya harus menganggur juga. Kejadian ini, sama halnya pemerintah hadir untuk memiskinkan rakyatnya.
Tak hanya rakyat yang susah, kata Misbakhun, pemerintah juga akan kehilangan potensi pendapatan yang cukup signifikan. Pendapatan itu berupa cukai, pajak, bea masuk/bea masuk progresif, dan pengaturan tata niaga yang sehat maupun pengembangan industri hasil tembakau bagi kepentingan nasional.
Misbakhun menambahkan, sektor pertembakauan dari hulu yakni budidaya hingga hilir yakni industri rokok, memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional yang berdampak luas.
Dia menjelaskan dampak tersebut antara lain, berkontrubusi dalam pertumbuhan ekonomi dari sektor industri sekitar 5-7%. Penerimaan negara (cukai) merupakan kebijakan penerimaan negara (APBN) yang signifikan senilai Rp141,7 triliun.
Misbakhun memaparkan, industri pertembakauan memberi kontribusi perpajakan terbesar yakni 52,7 persen, sedangkan real estate dan konstruksi 15,7 persen.
Industri tembakau, kata dia, merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja hingga lebih dari 6,1 juta jiwa dan menciptakan beberapa mata rantai industri yang dikelola oleh rakyat seperti pertanian, perajangan, dan pembibitan. [bbn/idc/psk]
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5988 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4674 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2652 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2311 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026