Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Masyarakat Bali, Tanah, dan Wong Alus
Kamis, 13 April 2017,
15:59 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Gamang, memedi, maupun tonya masih menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali percaya mereka tak sendiri. Tidak hanya ada manusia, namun juga ada makluk lain di bumi.
Seperti diketahui, masyarakat Hindu Bali meyakini adanya sekala niskala. Kepercayaannya itu kental dalam setiap sendi kehidupannya. Termasuk, dalam persoalan tanah.
[pilihan-redaksi]
Dalam catatan Thomas A.Reuter pada bukunya Custodians of The Sacred Mountains, dijelaskan bahwa masyarakat Bali begitu memperhatikan tiga hal ketika membuka tanah. Tiga hal tersebut yakni wong alus, bhuta kala, dan bhatara.
Terkait wong alus, masyarakat Bali percaya bahwa terdapat makhluk lain yang sebelumnya juga tinggal di tanah tersebut sebelum manusia datang. Makhluk tersebut disebut juga pasca manusia, sebab berwujud manusia dalam unsur yang halus. Sehinggga, wujudnya pun tidak dapat dilihat mata biasa.
Wong alus sendiri jika diterjemahkan berarti orang halus. Wong Alus merupakan lambang dari penduduk asli. Wong alus adalah bangsa kuno yang tidak memiliki nama dan dipaksa masuk ke hutan, jurang, reruntuhan, dan gua-gua yang gelap. Sama halnya dengan leluhur masyarakat Bali yang telah didewakan, mereka diasosiasikan dengan tempat-tempat tersebut.
Masyarakat Bali memahami wong alus sebagai warga yang tidak dapat dilihat dan tanpa zaman dari sebuah dunia niskala (harfiah berarti tanpa waktu). Mereka berdekatan dengan dunia manusia dan hidupnya bergnatung untuk sementara waktu atau sekala (secara harfiah berarti waktu yang dapat dihitung). Transisi dua dunia ini (sekala dan niskala) berubah-ubah.
Wong alus pun terkadang memunculkan dirinya secara spontan. Seperti misalnya masyarakat pegunungan yang sering melihat makhluk ini di dalam semak belukar.
Itulah sebabnya, masyarakat Bali begitu meyakini adanya kehidupan lain di tempat-tempat tertentu seperti rumah yang lama kosong, daerah pegunungan, maupun jurang. Tak jarang, wong alus ini pun akan merasuki manusia jika tempatnya diganggu.
Sebagai sebuah penghormatan, masyarakat Bali yang membuka tanah kemudian akan melaksanakan upacara tertentu. Sebagai bentuk pengusiran terhadap makhluk ini. Di dalam upacara itu pula, dimohon agar tidak diganggu dan sama-sama menjaga waktu dan dunia masing-masing. [wrt]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5920 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026