Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 29 Oktober 2026
Perubahan Iklim Bisa Ubah Lahan Gersang Jadi Hijau
Jumat, 7 Juli 2017,
07:12 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, London. Salah satu wilayah terkering di Afrika, Sahel, bisa berubah menjadi lebih hijau jika suhu Bumi menghangat lebih dari 2 derajat Celcius dan memicu curah hujan lebih lebat, kata para ilmuwan.
Wilayah Sahel membentang dari pantai ke pantai. Dari Mauritania dan Mali di barat sampai Sudan dan Eritrea di timur, menyusuri tepi selatan gurun Sahara. Kawasan ini menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 100 juta orang.
[pilihan-redaksi]
Kawasan ini telah menyaksikan cuaca yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kekeringan yang lebih sering.
Tetapi jika emisi gas rumah kaca terus berlanjut, pemanasan global yang dihasilkan dengan lebih dari 2 derajat Celsius dapat mengubah pola cuaca utama di Sahel dan di berbagai belahan dunia, kata para ilmuwan.
Beberapa model cuaca memprediksi sedikit peningkatan curah hujan untuk Sahel. Namun, ada risiko bahwa keseluruhan pola cuaca akan berubah pada akhir abad ini, kata peneliti di Institut Penelitian Dampak Cuaca Postdam (PIK).
"Ukuran sebenarnya dari perubahan yang mungkin terjadi sungguh luar biasa, ini adalah salah satu dari sedikit elemen dalam sistem Bumi yang mungkin akan kita saksikan sebentar lagi," kata Anders Levermann, salah satu ilmuwan dari PIK dan Observatorium Bumi Lamont-Doherty di Columbia University.
Jika Sahel mengalami curah hujan lebih banyak, berarti lebih banyak air untuk pertanian, industri, dan kebutuhan rumah tangga. Namun dalam beberapa tahun pertama masa transisi, orang cenderung mengalami cuaca yang sangat tidak menentu seperti kekeringan ekstrim yang diikuti oleh banjir yang merusak, kata peneliti.
Tingkat ketidakpastian ini menyebabkan kesulitan bagi orang untuk merencanakan perubahan yang akan terjadi, kata mereka.
"Perubahan besar yang mungkin kita lihat dengan jelas akan menjadi tantangan adaptasi besar bagi Sahel," kata Levermann.
"Lebih dari 100 juta orang berpotensi terkena dampak yang sekarang menghadapi banyak ketidakstabilan, termasuk perang," katanya.
Wilayah ini menghadapi berbagai konflik, termasuk sejumlah aksi yang dipicu oleh kelompok militan seperti Boko Haram dan Alqaid di Maghreb.
Para peneliti mempelajari pola curah hujan pada Juli, Agustus dan September ketika kawasan ini menerima sebagian besar hujan tahunannya.
"Ada sejumlah hasil yang memungkinkan bagi masyarakat di Sahel yang bergantung pada iklim yang akhirnya (berkembang) ... dan apakah mereka siap menghadapi fluktuasi," kata penulis utama Jacob Schewe, dari PIK.
Perubahan iklim dari pembakaran bahan bakar fosil benar-benar memiliki kekuatan untuk mengguncang segalanya, katanya menambahkan.
"Hal ini menyebabkan risiko untuk hasil panen di banyak daerah dan umumnya meningkatkan cuaca berbahaya di seluruh dunia," katanya.
Penelitian ini diterbitkan pada Rabu (5/7/2017) di Earth System Dynamics, sebuah jurnal dari European Geosciences Union. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5961 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4661 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2648 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2298 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2230 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026