Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Ilmuwan Finlandia Ciptakan "Makanan Listrik"
Rabu, 2 Agustus 2017,
18:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Helsinki. Para ilmuwan Finlandia mengklaim telah berhasil menciptakan makanan dari sekumpulan protein sel tunggal bergizi menggunakan sistem yang didukung oleh energi terbarukan. Hanya dibutuhkan listrik, air, karbon dioksida, dan mikroba untuk membentuk makanan ini.
Mengutip National Geographic, makanan sintetis tersebut diciptakan sebagai bagian dari proyek Food From Electricity, yang merupakan kolaborasi antara Lappeenranta University of Technology (LUT) dan VTT Technical Research Centre di Finlandia.
[pilihan-redaksi]
Setelah menampakkan bahan baku elektrolisa dalam bioreaktor, proses tersebut menghasilkan serbuk yang terdiri dari lebih dari 50 persen protein dan 25 persen karbohidrat. Tekstur serbuk dapat diubah dengan menggunakan mikroba yang digunakan dalam produksi.
Selanjutnya, menurut Juha-Pekka Pitkanen --ilmuwan utama di VTT-- adalah mengoptimalkan sistem. Hal itu disebabkan karena bioreaktor seukuran cangkir kopi tersebut membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk menghasilkan satu gram protein.
"Saat ini kami fokus pada pengembangan teknologi: konsep reaktor, teknologi, peningkatan efisiensi, dan pengendalian proses," ujar Pitkanen.
Menurut dia, butuh satu dekade untuk menyediakan sistem yang lebih efisien secara luas.
"Mungkin 10 tahun adalah waktu yang realistis untuk mencapai kapasitas komersial, dalam hal peraturan perundang-undangan dan teknologi proses yang diperlukan," ujarnya.
Adapun manfaat dari 'makanan listrik' ini sangatlah besar. Pertama, sebagai makanan alternatif bagi orang yang kelaparan dan menyediakan sumber makanan di daerah yang tidak sesuai dengan produksi pertanian.
Pitkanen menyebut, makanan ini akan bermanfaat di daerah yang rawan kelaparan atau padang pasir. Tanpa mengeluarkan biaya yang besar, mereka yang membutuhkan dapat menikmati makanan bergizi ini.
Mesin yang digunakan juga bekerja secara independen dari faktor lingkungan. Itu berarti, dalam makanan ini tidak bergantung pada kondisi tertentu untuk dapat mempertahankan gizinya, menurut Jero Ahola, profesor di LUT.
[pilihan-redaksi2]
Kedua, makanan ini dapat menurunkan emisi global. Dengan adanya hal ini, permintaan akan makanan ternak dan hasil panen akan berkurang.
Saat ini, industri daging menyumbang 14 sampai 18 persen emisi gas rumah kaca global dan menyita lahan yang seharusnya dapat digunakan untuk tujuan lain.
Dengan adanya makanan dari listrik, jumlah pertanian yang tidak berkelanjutan akan berkurang, dengan metode nutrisi baru yang lebih murah dan terbarukan.
Di samping makanan bersumber listrik, ada solusi positif lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi kasus kelaparan, seperti budidaya daging atau peternakan serangga. Selain menghasilkan sedikit limbah, metode ini juga hanya membutuhkan sedikit energi. [bbn/idc]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3811 Kali
02
03
04
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1757 Kali
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026