Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Ketergantungan Internet Picu Banyak Serangan Siber
Selasa, 29 Agustus 2017,
19:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Los Angeles. Berbagai laporan mengenai serangan siber terhadap banyak perusahaan dan pemerintah di seluruh dunia sepertinya lebih sering menjadi berita utama di tahun ini. Para pakar keamanan siber menjelaskan mengapa risiko peretasan semakin besar, siapa yang melakukan peretasan dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah atau meminimalisir dampaknya.
Dari jaringan listrik sampai perusahaan besar, tak ada satupun di dunia yang kebal akan serangan siber. Dan menurut pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Jonathan Homer, masalah ini semakin besar.
[pilihan-redaksi]
"Internet semakin terintegrasi ke dalam kehidupan kita setiap hari, dan kita sebagai warga, korporasi dan pemerintah menjadi semakin terhubung dan menggunakan Internet sebagai bagian penting dari komunikasi dan kerja sama. Ini artinya kemungkinan akan terjadinya serangan siber juga semakin besar," kata Homer seperti dilansir VOA News.
Ketergantungan yang lebih besar pada internet dan semakin luasnya informasi digital berarti ada keuntungan finansial yang menggiurkan bagi para kriminal.
Tahun lalu, terdapat peningkatan kasus-kasus ransomware, sejenis piranti lunak berbahaya yang dirancang untuk memblokir akses komputer sampai peretas menerima uang tebusan.
Dan melacak para kriminal di bidang ini bukanlah hal yang mudah, kata John Brown dari badan penyidik federal FBI.
"Kami merasa bahwa kejadian terkait gangguan siber kurang begitu dilaporkan kepada penegak hukum, baik kepada FBI, Secret Service (Dinas Rahasia) atau entitas lain. Mungkin hal itu didasari pertimbangan bisnis. Mereka khawatir akan publisitas," ujar Brown.
Undang-undang Federal dan negara bagian mengenai pelaporan serangan siber pun dinilai masih kurang jelas.
Pakar keamanan sistem komputer University of Southern California di Los Angeles, California AS, Clifford Nueman menjelaskan bahwa kasus yang sering menimpa kalangan bisnis adalah mereka tidak mengetahui informasi apa yang dibocorkan, dan mereka mungkin sengaja menutup sebelah mata untuk mengatakan 'kami tidak tahu informasi personal apa yang telah diretas. Yang kami tahu adalah seseorang telah memasuki sistem kami'.
FBI menyebut para pelaku peretasan berkisar mulai dari kriminal yang ingin menuntut uang tebusan sampai para peretas dengan motivasi geopolitik.
"Jelas ada negara-negara yang terlibat dalam kegiatan siber yang ingin mencuri rahasia dagang, informasi kepemilikan yang dikembangkan perusahaan-perusahaan, dan rahasia pemerintah," tambah Brown.
[pilihan-redaksi2]
Yang jadi persoalan bukannya apakah sebuah serangan akan terjadi, melainkan kapan. FBI mengatakan, penting untuk membangun kemitraan untuk menyusun sebuah rencana sebelum serangan terjadi.
Cara lain untuk menghadapinya adalah mempertimbangkan kembali bagaimana suatu sistem online dirancang.
"Pahami bahwa oknum-oknum akan meretas, dan pastikan bahwa struktur suatu sistem dirancang untuk meminimalisir kerugian yang bisa terjadi," kata Neuman.
Dengan demikian ketika satu bagian dari sistem diretas, seluruh sistem tidak akan terkena dampaknya dan masih bisa beroperasi.[bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5934 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2618 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2274 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026