Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kalangan Perhotelan Minta Usulan Pemutusan Internet Saat Nyepi Dikaji Ulang

Kamis, 8 Maret 2018, 13:00 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com/Sumandia

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Kalangan perhotelan meminta usulan pemutusan internet saat pelaksanaan Nyepi dikaji ulang. Bila dalam pelaksanaanya pemutusan internet dilakukan secara total maka langkah tersebut dinilai  sangat tidak relevan.

“Pelaksanaan Catur Bratha Penyepian memang ada untuk tidak menikmati hiburan, tapi ini lebih pada praktek spiritual yang bersifat pribadi, itu kembali lagi ke pribadi masing-masing” ujar Managing Director Om Ham Retreat Hotel Sawitri saat di konfirmasi pada Kamis (8/3) di Denpasar.

[pilihan-redaksi]
Sawitri berharap PHDI bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pelaksanaan Catur Bratha Penyepian. Sehingga orang Bali sadar dan menyadarinya dari diri sendiri  dan tidak dipaksa dari luar.

Menurut Sawitri, jika dalam pelaksanaanya pemutusan internet dilakukan secara total maka akan mengganggu sistem operasional. Mengingat sistem hotel menggunakan internet dan dampak kerugian akan sangat dirasakan.

“Internet digunakan mulai dari PMS (property management system) , Website, booking engine dan sebagainnya, kendalanya kita tidak dapat mengakses sistem kita dan melakukan conversation, terutama via email, dan ini akan berdampak pada operasional di hari berikutnya. Jangan hanya berpikir hotel dengan 10-20 room, bagaimana dengan hotel dengan ratusan kamar” tegas Sawitri.

Sawitri menegaskan ketika PMS tidak bisa diakses karena tidak ada jaringan internet maka tentu outlet bill tidak bisa dijalankan sehingga harus dilakukan secara manual. Ketika dijalankan secara manual maka sangat rawan terjadi kecurangan. “kerugian kedua pick up booking tidak akan terjadi baik dari OTA dan website, jika kita hitung kerugian bisa mencapai 20-30% untuk next revenue” papar Sawitri.

Sawitri berharap PHDI menyampaikan alasan yang menjadi dasar usulan  pemutusan internet saat Nyepi.  PHDI juga harusnya menyerap opini dan aspirasi dari semua sektor. “saya menghargaai agama saya, saya menghargai budaya saya, tapi praktek spiritual tidak bisa dipaksakan dari luar. Saya lihat tandatangan persetujuan dari semua pemuka agama itu bagus sekali , tapi apakah bisa dipastikan umat juga akan menjalankan. Biar tidak mabuk agama” ungkap Sawitri.

Sedangkan General Manager Furama Villas dan Furama Xclusive Villas and Spa Ubud Wayan Sumandia mengaku memandang usulan pemutusan internet saat Nyepi dari dua sisi. Secara pribadi pemutusan tersebut sangat bagus untuk menjalankan pelaksanaan Nyepi. Namun Implementasinya bukan diputus total, namun lebih pada pengendalian diri.

[pilihan-redaksi2]
Menurut Sumandia, jika dilihat dari sudut pandang pelayanan bagi konsumen tentu tidak baik jika dilakukan pemutusan internet saat Nyepi. Mengingat harus tetap menghargai hak orang yang tidak Nyepi, khususnya tamu-tamu yang menginap di hotel. Belum lagi Bali merupakan destinasi wisata yang sudah terkenal di seluruh dunia.

“Saya tidak mau dengan menutup internet saat Nyepi akan mencoreng citra pariwisata Bali itu sendiri , dan kita juga tidak mau dikatakan intoleran terhadap orang lain, terutam,a wisatawan” jelas Sumandia.

Sumandia mengingatkan yang perlu dikedepankan saat ini harusnya membenahi, mengedukasi dan mengkampanyekan kepada  umat  Hindu Bali agar tidak mengaktifan internet selama Nyepi. Bukan dengan memaksa orang lain ikut Nyepi dengan memutus jaringan internet. [bbn/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami