Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Beryadnya Ala Gambuh Kaga Wana Giri
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Beberapa raut wajah penari tak berekspresi, gerakannya berbeda dari pakem tari bali biasanya. Maklum saja, Gambuh Kaga Wana Giri adalah kumpulan seniman yang belajar secara mandiri dengan penuh kesadaran. Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri menunjukkan aksinya dalam semaraknya PKB ke-40 di Kalangan Angsoka, Art Center pada Kamis (28/6).
Pragina asal Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri, Kabupaten Gianyar berusaha menghibur penonton dengan iringan musik yang mengalun dengan lembut. Tari Gambuh ialah tarian sakral yang merupakan awal mula dari tarian Bali saat ini.
Kelian Seka Gambuh Kaga Wana Giri,I Gusti Ngurah Widiantara menjelaskan bahwa Gambuh yang ditampilkan bercerita tentang membayar yadnya ke Gunung Pengebel. Hal itu karena Prabu Gegelang pernah berucap apaun dan kapanpun Kerajaan Gegelang Makmur, pada saat itu akan melangsungkan yajna.
Berbeda dengan seni sakral lainnya, seperti joged Pingit dan seni Budrah yang hadir dalam konsep modifikasinya. Tarian Gambuh justru hadir apa adanya. “Pentas dimanapun kami tetap membawa ciri khas Gambuh seperti itu. Karena tarian sakral kan tidak bisa dirubah-rubah. Cuma untuk pementasan durasinya lebih lama. Sedangkan saat odalan durasinya singkat,” tutur Widiantara.
Tarian ini mengajarkan untuk bersyukur atas kenikmatan hidup yang kita rasakan. Malangnya, dalam proses persiapan sekaa itu tersandung masalah dana. “Ya karena dananya tidak mencukupi, ada saja pragina menggenakan pakaian yang ia punya. Walau lusuh sedikit tapi masih bisa dipakai,” ungkap Widiantara. Pada akhirnya, menari adalah hal yang dapat dilakukan setiap orang. Hanya saja, ini bukan soal materi, tetapi ini untuk beryajna.
Menembangkan Catur Asrama

Ketika sang pewaktu telah menunjukkan pukul 2 siang, Kalangan Ratna Kanda, Art Center kembali diramaikan dengan penampilan tembang girang dari Sanggar Once Srawa. Sanggar yang mewadahi seniman muda ini didaulat sebagai Duta Kabupaten Jembrana dalam tembang girang yang kali ini menjadi ajang perlombaan pada PKB (Pesta Kesenian Bali) ke-40.
Dengan alunan gamelan khas semar pagulinagnnya, ketujuh penembang dan peneges pun menikmati alunan gamelan dan siap matembang. Mempersembahkan tembang yang bertajuk ‘Catur Asrama’, duta kabupaten Jembrana mengisyaratkan kepada masyarakat khususnya anak muda agar dapat menjalani kehidupannya yang selaras dengan 4 tahapan hidup yang sejati menurut agama Hindu yakni Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhasta (masa membina rumah tangga), Wanaprasta (masa mengasingkan diri dari nafsu duniawi), dan Bhiksuka (memperdalam ajaran dharma untuk mencapai surga).[bbn/rls/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2643 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2287 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2224 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan