Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 13 September 2026
Beryadnya Ala Gambuh Kaga Wana Giri
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Beberapa raut wajah penari tak berekspresi, gerakannya berbeda dari pakem tari bali biasanya. Maklum saja, Gambuh Kaga Wana Giri adalah kumpulan seniman yang belajar secara mandiri dengan penuh kesadaran. Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri menunjukkan aksinya dalam semaraknya PKB ke-40 di Kalangan Angsoka, Art Center pada Kamis (28/6).
Pragina asal Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri, Kabupaten Gianyar berusaha menghibur penonton dengan iringan musik yang mengalun dengan lembut. Tari Gambuh ialah tarian sakral yang merupakan awal mula dari tarian Bali saat ini.
Kelian Seka Gambuh Kaga Wana Giri,I Gusti Ngurah Widiantara menjelaskan bahwa Gambuh yang ditampilkan bercerita tentang membayar yadnya ke Gunung Pengebel. Hal itu karena Prabu Gegelang pernah berucap apaun dan kapanpun Kerajaan Gegelang Makmur, pada saat itu akan melangsungkan yajna.
Berbeda dengan seni sakral lainnya, seperti joged Pingit dan seni Budrah yang hadir dalam konsep modifikasinya. Tarian Gambuh justru hadir apa adanya. “Pentas dimanapun kami tetap membawa ciri khas Gambuh seperti itu. Karena tarian sakral kan tidak bisa dirubah-rubah. Cuma untuk pementasan durasinya lebih lama. Sedangkan saat odalan durasinya singkat,” tutur Widiantara.
Tarian ini mengajarkan untuk bersyukur atas kenikmatan hidup yang kita rasakan. Malangnya, dalam proses persiapan sekaa itu tersandung masalah dana. “Ya karena dananya tidak mencukupi, ada saja pragina menggenakan pakaian yang ia punya. Walau lusuh sedikit tapi masih bisa dipakai,” ungkap Widiantara. Pada akhirnya, menari adalah hal yang dapat dilakukan setiap orang. Hanya saja, ini bukan soal materi, tetapi ini untuk beryajna.
Menembangkan Catur Asrama

Ketika sang pewaktu telah menunjukkan pukul 2 siang, Kalangan Ratna Kanda, Art Center kembali diramaikan dengan penampilan tembang girang dari Sanggar Once Srawa. Sanggar yang mewadahi seniman muda ini didaulat sebagai Duta Kabupaten Jembrana dalam tembang girang yang kali ini menjadi ajang perlombaan pada PKB (Pesta Kesenian Bali) ke-40.
Dengan alunan gamelan khas semar pagulinagnnya, ketujuh penembang dan peneges pun menikmati alunan gamelan dan siap matembang. Mempersembahkan tembang yang bertajuk ‘Catur Asrama’, duta kabupaten Jembrana mengisyaratkan kepada masyarakat khususnya anak muda agar dapat menjalani kehidupannya yang selaras dengan 4 tahapan hidup yang sejati menurut agama Hindu yakni Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhasta (masa membina rumah tangga), Wanaprasta (masa mengasingkan diri dari nafsu duniawi), dan Bhiksuka (memperdalam ajaran dharma untuk mencapai surga).[bbn/rls/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3366 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 1444 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 801 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan