Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Beryadnya Ala Gambuh Kaga Wana Giri

Jumat, 29 Juni 2018, 18:25 WITA Follow
Beritabali.com

istimewa

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Beberapa raut wajah penari tak berekspresi, gerakannya berbeda dari pakem tari bali biasanya. Maklum saja, Gambuh Kaga Wana Giri adalah kumpulan seniman yang belajar secara mandiri dengan penuh kesadaran. Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri menunjukkan aksinya dalam semaraknya PKB ke-40 di  Kalangan Angsoka, Art Center pada Kamis (28/6).

Pragina asal Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri, Kabupaten Gianyar  berusaha menghibur penonton dengan iringan musik yang mengalun dengan lembut. Tari Gambuh ialah tarian sakral yang merupakan awal mula dari tarian Bali saat ini.

Kelian Seka Gambuh Kaga Wana Giri,I Gusti Ngurah Widiantara menjelaskan bahwa Gambuh yang ditampilkan bercerita tentang membayar yadnya ke Gunung Pengebel. Hal  itu karena Prabu Gegelang pernah berucap apaun dan kapanpun Kerajaan Gegelang Makmur, pada saat itu akan melangsungkan yajna.  

Berbeda dengan seni sakral lainnya, seperti joged Pingit dan seni Budrah yang hadir dalam konsep modifikasinya. Tarian Gambuh justru hadir apa adanya. “Pentas dimanapun kami tetap membawa ciri khas Gambuh seperti itu. Karena tarian sakral kan tidak bisa dirubah-rubah. Cuma untuk pementasan durasinya lebih lama. Sedangkan saat odalan durasinya singkat,” tutur Widiantara.

Tarian ini mengajarkan untuk bersyukur atas kenikmatan hidup yang kita rasakan. Malangnya, dalam proses persiapan sekaa itu tersandung masalah dana. “Ya karena dananya tidak mencukupi, ada saja pragina menggenakan pakaian yang ia punya. Walau lusuh sedikit tapi masih bisa dipakai,” ungkap Widiantara. Pada akhirnya, menari adalah hal yang dapat dilakukan setiap orang. Hanya saja, ini bukan soal materi, tetapi ini untuk beryajna.

 

Menembangkan Catur Asrama

Ketika sang pewaktu telah menunjukkan pukul 2 siang, Kalangan Ratna Kanda, Art Center kembali diramaikan dengan penampilan tembang girang dari Sanggar Once Srawa. Sanggar yang mewadahi seniman muda ini didaulat sebagai Duta Kabupaten Jembrana dalam tembang girang yang kali ini menjadi ajang perlombaan pada PKB (Pesta Kesenian Bali) ke-40.

Dengan alunan gamelan khas semar pagulinagnnya, ketujuh penembang dan peneges pun menikmati alunan gamelan dan siap matembang. Mempersembahkan tembang yang bertajuk ‘Catur Asrama’, duta kabupaten Jembrana mengisyaratkan kepada masyarakat khususnya anak muda agar dapat menjalani kehidupannya yang selaras dengan 4 tahapan hidup yang sejati menurut agama Hindu yakni Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhasta (masa membina rumah tangga), Wanaprasta (masa mengasingkan diri dari nafsu duniawi), dan Bhiksuka (memperdalam ajaran dharma untuk mencapai surga).[bbn/rls/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami