Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Apa Itu Pedofilia, Apa Bisa Disembuhkan?
Seksologi dr. Oka Negara,FIAS
Minggu, 26 Agustus 2018,
08:11 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Tanya: "Dok, saya bertanya ini karena merasa takut dan “parno” nih, sejak diduga ada kasus pelecehan seksual terhadap siswa di sekolah anak saya. Saya jadi ingin tanya dok tentang pedofilia. Apa penyebabnya, kenapa anak-anak yang dijadikan sasaran, bagaimana mengenali pelakunya dan apa bisa disembuhkan, dok? Terima kasih.” (Yunita, 34).
[pilihan-redaksi]
Jawab: Pertanyaan serupa juga sempat ditanyakan oleh beberapa orang via email. Begini, kata Pedofilia berasal dari akar kata “pedo” yang artinya anak dan “filia” yang berarti cinta atau rasa sayang. Pedofilia memiliki makna ketertarikan orang dewasa (atau yang dianggap sudah cukup umur) untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak (atau yang dianggap belum cukup umur). Yang dimaksud dengan anak adalah mereka yang berusia 12 tahun ke bawah.
Pedofilia sering kali dihubungkan dengan masalah krisis identitas, yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, peristiwa psikologis masa lalu yang dialami dan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Belum bisa dijelaskan apakah ada faktor biologis atau genetika yang kuat berperan membentuk seseorang menjadi pelaku pedofilia.
Jika pembentukan identitas diri dilalui dengan masa lalu yang traumatik dan lingkungan yang membentuknya juga ada yang mendorong seseorang untuk memandang dirinya menjadi lebih memilih melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak, maka itulah menjadi penyebabnya.
Jika ditelaah kembali pembentukan identitas diri yang gagal ini bisa disebabkan karena beberapa hal; 1) Trauma psikis masa kecil, misalnya pengalaman saat di masa kanak-kanak pernah sebagai korban pedofilia juga, atau melihat kejadian pedofilia di depan matanya, yang akhirnya menempatkan kejadian ini sebagai sebuah standar perilaku seksual buatnya.
2) Inferioritas atau rendah diri, karena selama ini merasa tidak punya kelebihan, merasa gagal dalam relasi sosial antar sebayanya,sehingga dengan menguasai anak kecil secara seksual dia akan merasa memiliki “power” sebagai orang yang punya harga diri.
3) Antisosial atau kurangnya sosialisasi,terutama saat berada di kalangan sebayanya yang dewasa,yang akhirnya memilih lebih nyaman dengan anak-anak.
Kenapa sasarannya adalah anak-anak, karena dengan sebaya yang dewasa dia merasa tidak nyaman atau tidak mendapatkan pengakuan serta kekuasaan secara seksual, maka dia akan memilih anak-anak untuk dikuasai atau didominasi. Powernya didapat disini. Menjadi dominan. Kepuasaan seksual yang didapatkan juga menjadi saat yang dinanti buat mendapatkan relaksasi untuk bisa meningkatkan kualitas hidup hariannya.
Untuk mengenali seorang pelaku pedofilia kalau selama ini yang bersangkutan dalam lingkungan pergaulan sosialnya masih bisa larut dengan orang kebanyakan tentu saja akan sulit dibedakan, hanya pendekatan tentang kehidupan pribadi dan lingkungan sosialnya yang bisa dijadikan cara menduga dan mengenal secara awal.
[pilihan-redaksi2]
Sementara untuk yang lebih lanjut, biasanya yang bersangkutan akan susah bergaul dengan lepas termasuk dalam konteks candaan seksual secara verbal dengan teman sebaya, cenderung menghindari pembicaraan seksual dengan sebaya, atau malah menarik diri dari lingkungan pergaulan sebaya.
Juga bisa terlihat lebih apatis, dan lebih senang mengikuti acara atau sesi dengan anak-anak. Kalau ditelusuri lagi dalam konteks arsip personalnya, kadang bisa dijumpai dokumentasi berupa file foto atau tulisan tentang anak-anak,terutama pornografi anak.
Beberapa realitas itu bisa dijadikan dugaan adanya kemungkinan pedofilia.Karena termasuk ke dalam golongan parafilia, atau perilaku seksual yang dianggap tidak normal, kesembuhan yang diharapkan orang banyak untuknya mau kembali ke aktivitas seksual dengan pasangan seksual orang dewasa, sering kali memang tidak mudah.
Perlu pendekatan khusus untuk menelusuri masa lalu dan trauma psikisnya, disini profesi psikolog atau psikiater memegang peranan lebih banyak buat membantunya, walau kemungkinan cukup berat untuk di”normal”kan berdasarkan persepsi umum. Paling tidak target terapi adalah yang bersangkutan tidak melakukan “aksi” pedofilia atau agresi seksual ke anak-anak.
Dan satu lagi yang perlu diperhatikan adalah, perilaku pedofilia yang dibiarkan dan dilakukan dengan berganti-ganti sasaran seksual, akan berisiko juga dalam penularan infeksi menular seksual. [bbn/dr oka negara/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2937 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2014 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026