Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
I Wayan Ceteg, Seniman Pahat Patung Monumental
Minggu, 26 Agustus 2018,
14:45 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Tidak banyak orang tahu bahwa patung Saraswati yang sekarang masih berdiri kokoh di serambi dalam Fakultas Sastra Universitas Udayana adalah karya I Wayan Ceteg, pemahat terkenal dari Banjar Tampak Gingsul. Begitu pula siapa tahu dengan jelas bahwa patung yang sekarang tetap monumental di ujung Barat Jalan Gajah Mada adalah juga karyanya.
[pilihan-redaksi]
I Wayan Ceteg dilahirkan di Banjar Tampak Gangsul, Denpasar tahun 1906. Ketika meletus perang Puputan Badung Ceteg konon masih di kandungan ibunya. Ayahnya I Wayan Keraweng adalah seorang petani. Ibunya Ni Wayan Bunter adalah seorang wanita biasa. Ceteg mengaku tak pernah duduk di bangku sekolah, tetapi ia fasih membaca aksara Bali dan huruf latin.
I Wayan Ceteg dilahirkan di Banjar Tampak Gangsul, Denpasar tahun 1906. Ketika meletus perang Puputan Badung Ceteg konon masih di kandungan ibunya. Ayahnya I Wayan Keraweng adalah seorang petani. Ibunya Ni Wayan Bunter adalah seorang wanita biasa. Ceteg mengaku tak pernah duduk di bangku sekolah, tetapi ia fasih membaca aksara Bali dan huruf latin.
Belajar memahat pertama kali pada A.A. Made Gede dan Jeroan Gerenceng, sejak umur 15 tahun ia telah mulai belajar mengukir sendiri. Di tahun 1930 dengan modal seadanya ia memberanikan diri bekerja sebagai pande mas (tukang emas). Selain itu ia juga menyalurkan bakatnya dengan mengukir kayu dan batu padas. Semakin hari banyak orang menaruh perhatian padanya. Tawaran kerja sama untuk pekerjaan berskala besar sering datang padanya. Sosialisasi dirinya cukup kental, tak jarang ia disuruh sama-sama membuat wadah, lembu untuk upacara pengabenan.
[pilihan-redaksi2]
Selain barang-barang dari emas, gagang keris, hasil karyanya berupa penyekat ruangan, yang dikerjakan bersama kawan-kawan tersimpan di sejumlah museum di Eropa, di antaranya menjadi dokumentasi sebuah museum di Paris. Rumahnya di bilangan Banjar Tampak Gangsul memang penuh bergelantungan pernik-pernik aksesoris emas dan perak, mulai dari gagang keris, perhiasan wanita, beragam panil mungil menjadi saksi betapa ketekunan seorang I Wayan Ceteg.
Selain barang-barang dari emas, gagang keris, hasil karyanya berupa penyekat ruangan, yang dikerjakan bersama kawan-kawan tersimpan di sejumlah museum di Eropa, di antaranya menjadi dokumentasi sebuah museum di Paris. Rumahnya di bilangan Banjar Tampak Gangsul memang penuh bergelantungan pernik-pernik aksesoris emas dan perak, mulai dari gagang keris, perhiasan wanita, beragam panil mungil menjadi saksi betapa ketekunan seorang I Wayan Ceteg.
Perkawinanya dengan Ni Bunter hampir setengah abad silam, membuahkan lima anak. Dua diantara 5 bersaudara itu, yaitu Ni Ketut Nendra Tega dan Ketut Yatjna meneruskan tradisi sang ayah. Mereka menjadi tukang emas, yang kelak bisa menyaingi kehebatan ayahnya I Ceteg. Di usia lanjut Ceteg ternyata masih punya semangat, tangannya tampak menari di pernik bongkahan emas. Maklum ia begitu banyak dijejali pesanan. Kerjanya kadang tampak sangat elit, itu bisa dilihat dari beberapa orang yang datang padanya. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2808 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2033 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1983 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026