Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 Juli 2026
AHF: Pendapatan Negara Berkembang Tidak Sepadan dengan Harga Secangkir Kopi
Jumat, 12 Oktober 2018,
08:56 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com,Badung. AIDS Healthcare Foundation (AHF) menyerukan kampanye dengan membagikan kopi agar Bank Dunia mengubah kebijakannya terkait klasifikasi negara-negara berpenghasilan menengah (MIC/Middle Income Country).
Dalam kampanye kreatif yang dilangsungkan selama penyelenggaraan IMF-World Bank di Nusa Dua (8-14 Oktober 2018) tersebut "kopi World Bank" itu bertuliskan “$ 2,73 per day is not middle income,” atau pendapatan USD 2,73 per hari bukan termasuk negara menengah. Hal ini bertujuan agar Bank Dunia mengubah klasifikasi pendapatan negara berkembang yang disejajarkan dengan harga secangkir kopi per hari.
Country Program Manager AHF Indonesia, Riki Febrian mengatakan hal ini dilakukan sebagai dampak berkurangnya bantuan internasional terkait penanganan penderita HIV/AIDS di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Padahal kemampaun pemerintah Indonesia untuk menangani pengidap HIV/AIDS belum memadai dan pihaknya sangat mencemaskan hal tersebut.
“Dari sekitar 630 ribu penderita, hanya sekitar 290 ribu orang yang bisa ditangani,” jelasnya, Kamis (12/10).
Lebih lanjut, belakangan bantuan internasional untuk penanganan HIV/ADS di negara berkembang, termasuk Indonesia, berkurang. Hal itu terjadi karena, Bank Dunia memberlakukan klasifikasi baru mengenai negara berpenghasilan menengah atau Middle Income Country (MIC). Dengan demikian maka, Bank Dunia menetapkan negara dengan penduduk berpenghasilan 2,73 dolar AS per hari, atau setara dengan harga secangkir kopi di banyak negara, bukan termasuk kelompok negara miskin.
“Padahal, badan atau lembaga donor, seperti Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, menggunakan skala penghasilan Bank Dunia untuk menentukan negara yang menerima bantuan,” ujarnya.
Disampaikan, karena Indonesia bukan masuk kategori MIC, maka bantuan intenasional menyusut dan hal itu semakin memperburuk penanganan HIV/AIDS di negeri ini. Padalah selama ini 80 persen dana penanganan HIV/AIDS di Indonesia berasal luar.
“Karena kita dianggap sudah kaya, negara lain dan lembaga dana menarik dukungan,” ucapnya.
AHF merupakan organisasi non profit yang berbasis di Los Angeles. Saat ini AHF menyediakan perawatan atau layanan medis kepada lebih dari 1 juta orang penderita HIV/AIDS di 41 negara , tersebar di AS, Afrika, Amerika Latin , Karibia, Asia Pasifik dan Eropa Timur.(bbn/aga/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3877 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2181 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2009 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1923 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1785 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026