Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
AHF: Pendapatan Negara Berkembang Tidak Sepadan dengan Harga Secangkir Kopi
Jumat, 12 Oktober 2018,
08:56 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com,Badung. AIDS Healthcare Foundation (AHF) menyerukan kampanye dengan membagikan kopi agar Bank Dunia mengubah kebijakannya terkait klasifikasi negara-negara berpenghasilan menengah (MIC/Middle Income Country).
Dalam kampanye kreatif yang dilangsungkan selama penyelenggaraan IMF-World Bank di Nusa Dua (8-14 Oktober 2018) tersebut "kopi World Bank" itu bertuliskan “$ 2,73 per day is not middle income,” atau pendapatan USD 2,73 per hari bukan termasuk negara menengah. Hal ini bertujuan agar Bank Dunia mengubah klasifikasi pendapatan negara berkembang yang disejajarkan dengan harga secangkir kopi per hari.
Country Program Manager AHF Indonesia, Riki Febrian mengatakan hal ini dilakukan sebagai dampak berkurangnya bantuan internasional terkait penanganan penderita HIV/AIDS di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Padahal kemampaun pemerintah Indonesia untuk menangani pengidap HIV/AIDS belum memadai dan pihaknya sangat mencemaskan hal tersebut.
“Dari sekitar 630 ribu penderita, hanya sekitar 290 ribu orang yang bisa ditangani,” jelasnya, Kamis (12/10).
Lebih lanjut, belakangan bantuan internasional untuk penanganan HIV/ADS di negara berkembang, termasuk Indonesia, berkurang. Hal itu terjadi karena, Bank Dunia memberlakukan klasifikasi baru mengenai negara berpenghasilan menengah atau Middle Income Country (MIC). Dengan demikian maka, Bank Dunia menetapkan negara dengan penduduk berpenghasilan 2,73 dolar AS per hari, atau setara dengan harga secangkir kopi di banyak negara, bukan termasuk kelompok negara miskin.
“Padahal, badan atau lembaga donor, seperti Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, menggunakan skala penghasilan Bank Dunia untuk menentukan negara yang menerima bantuan,” ujarnya.
Disampaikan, karena Indonesia bukan masuk kategori MIC, maka bantuan intenasional menyusut dan hal itu semakin memperburuk penanganan HIV/AIDS di negeri ini. Padalah selama ini 80 persen dana penanganan HIV/AIDS di Indonesia berasal luar.
“Karena kita dianggap sudah kaya, negara lain dan lembaga dana menarik dukungan,” ucapnya.
AHF merupakan organisasi non profit yang berbasis di Los Angeles. Saat ini AHF menyediakan perawatan atau layanan medis kepada lebih dari 1 juta orang penderita HIV/AIDS di 41 negara , tersebar di AS, Afrika, Amerika Latin , Karibia, Asia Pasifik dan Eropa Timur.(bbn/aga/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5903 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2594 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026