Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 23 September 2026
Bisnis Ritel Perlu Transformasi Menjadi E-Commerce Berbasis Big Data
Sabtu, 16 Maret 2019,
15:10 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com, Badung. Hadapi tren ekonomi digital dan fenomena disrupsi, bisnis ritel perlu bertransformasi menjadi E-Commerce yang berbasis Big Data dan berorientasi pada segmen pasar milenial dengan mengombinasikan inovasi yang diturunkan dari konsep leisure economy.
[pilihan-redaksi]
Demikian terungkap dalam Hipmi Sharing "Peluang dan Tantangan Pasar Retail 2019" yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Badung, Sabtu (15/3) malam yang menghadirkan 2 narasumber; yakni pengusaha retail I Gede Agus Hardiawan dan I Nengah Natyanta di Badung.
Gede Agus Hardiawan yang dikenal dengan sebelumnya dikenal pemilik Hardys Group Holdings identik berkiprah di bisnis ritel hingga mewabah di beberapa daerah di Bali dan Jawa mengatakan fenomena disrupsi atau gangguan dari perkembangan teknologi yang melahirkan market place mengakibatkan perubahan pola dan orientasi dalam bisnis retail diantaranya, hilangnya rantai pasar ritel konvensional dari sebelumnya 'produsen-distributor nasional-distributor lokal-grosir-konsumen' menjadi 'produsen-market place-konsumen'. Selain itu segmen pasar yang dibidik utamanya adalah milenial yang rata-rata melek dengan teknologi atau gawai (gadget).
Perubahan berikut, menurutnya adalah orientasi valuasi perusahaan yang semula dari uang bergeser pada big data. Sebagai contoh, Gojek sebagai perusahaan platform digital yang awalnya bergerak di bidang tranportasi tidak memiliki aset namun dalam perkembangannya mempunyai valuasi tinggi sebesar Rp.75 triliun atau setara dengan 12 kali lipat valuasi Garuda Indonesia yang hanya sebesar Rp6 triliun.
Lalu, lanjutnya berdasarkan data statistik pertumbuhan pasar E-Commerce di Indonesia sebesar 78% per tahun, tertinggi di dunia setelah Mexico 59%, Filipina%, Kolombia 45% merupakan pasar yang potensial bagi perkembangan market place di dunia. "Kedepan, fenomena disrupsi juga diprediksi mengakibatkan 7 sektor bisnis akan mengalami sunset atau surut berguguran, salah satunya sektor bisnis ritel dimana contohnya adalah grup Hardys sendiri yang mengalami bankruptcy," akunya.
Selain tantangan, Gede Hardi melihat peluang besar Bali di dunia pariwisata yang telah diakui internasional sebagai destinasi wisata terbaik ke-4 versi Trip Advisor dan World Best Island Destination. Mengacu data dari Kementrian Pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tahun 2018 lalu mencapai 6,1 juta turis sedangkan wisatawan domestik sebesar 4 juta. Dengan potensi pertumbuhan kunjungan wisatawan 12,58% per tahun, Kemenpar menargetkan pada 2025 mendatang ada sekitar 10 juta wisman datang ke Bali.
[pilihan-redaksi2]
Berkaca dari peluang inilah, bisnis ritel di Bali tumbuh menggeliat dibanding segmen lokal dengan mengandalkan lokasi di sekitaran pusaran pariwisata seperti hotel atau objek wisata. Inilah kemudian yang merupakan terjemahan dari konsep leisure economy.
Berkaca dari peluang inilah, bisnis ritel di Bali tumbuh menggeliat dibanding segmen lokal dengan mengandalkan lokasi di sekitaran pusaran pariwisata seperti hotel atau objek wisata. Inilah kemudian yang merupakan terjemahan dari konsep leisure economy.
Berbeda dengan Hardys, Nengah Natya selaku pemilik Coco Group cukup optimis dengan bisnis retail kedepan dengan syarat harus berinovasi terus mengehadapi perubahan selera pasar yang demikian cepat. Konsep yang ditawarkan adalah selain memuat aspek 5 P yakni (property, product, place, people, promotion) adalah membuat nyaman suasana usaha retail sedemikian rupa dengan adanya tambahan kuliner, coffe shop, wifi dan lain-lain. Kendati demikian, ia tidak menafikkan sektor e-commerce, dengan satu sama lain mengisi baik pasar offline dan online.
Akhirnya, Alumni Senior Hipmi Gede Sumarjaya Linggih menegaskan bahwa kedepan terdapat 2 lini ekonomi yang memegang kendali yaitu digital economy dan leisure economy. Dengan mengolaborasikan 2 terapan ekonomi tersebut, menurutnya niscaya kesuksesan di depan mata. (bbn/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8303 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5736 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3585 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2427 Kali
05
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026