Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 3 Juli 2026
Kampung Sindu, Kampung Islam Yang Warganya Fasih Berbahasa Bali Halus
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Beritabali.com, Gianyar. Warga Kampung Muslim Sindu, Keramas, Gianyar memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik, terbukti mampu dengan fasih menggunakan bahasa Bali halus. Jika tak hati-hati, kemampuan berbahasa ini bisa menipu dengan menganggap mereka orang Bali.
[pilihan-redaksi]
Demikian terungkap dalam sebuah artikel berjudul “Kampung Sindu: Jejak Islam dan Situs Kerukunan di Keramas, Gianyar, Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Volume 16, Nomor.2, Tahun 2018. Artikel tersebut ditulis oleh I Nyoman Yoga Segara dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Nyoman Yoga Segara menuliskan bahwa interaksi yang intens dengan orang Bali dan terutama karena sering tangkil atau menghadap raja di puri Keramas menyebabkan warga Kampung Sindu fasih berbahasa Bali halus. Sebagai contoh Ustaz Cholil Mawardi, dari Jawa yang menikahi perempuan Kampung Sindu dan tinggal sejak 1990-an, juga mampu menggunakan bahasa Bali dengan baik. Baginya berbahasa Bali adalah alat pemersatu dengan umat Hindu lainnya.
Umat Islam di Kampung Sindu seperti halnya umat Islam yang terutama mendiami tanah-tanah catu umumnya memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik. Bahkan di Kampung Sindu, mereka sudah seperti layaknya orang Bali. Beberapa tokoh Islam di kampung Sindu juga menyebut diri sebagai “orang Bali”.
[pilihan-redaksi]
Kampung Sindu adalah sebuah kampung kecil yang terletak di pinggiran Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Kampung Sindu merupakan salah satu lingkungan kedinasan yang terintegrasi dengan pemerintahan desa, meskipun secara adat juga menjadi bagian tak terpisahkan dari desa pakraman.
Bahkan Masjid Darul Hijrah berdampingan dengan griya dan sanggah-sanggah milik umat Hindu. Griya Sindu Manik Mas karena telah melinggih seorang Rsi, setiap hari mengumandangkan puja Tri Sandhya, yaitu pada pukul 06.00, 12.00 dan 18.00, suara azan masjid juga akan bergema mengumandangkan azan salat lima waktu 30 menit setelahnya.
Puja Tri Sandhya dan suara azan seolah saling bersahutan memenuhi nuansa rohani mereka yang tinggal di sebelah timur Banjar Lebah itu. Bahkan pada hari Jum’at karena waktunya berdekatan, suara puja Tri Sandhya dan Salat Jum’atan berkumandang secara bersamaan.
Suasana tersebut telah berlangsung selama empat generasi, dan dalam kurun waktu yang panjang itu tidak pernah sekali pun terjadi konflik karena perbedaan tata cara sembahyang. Bahkan setiap tahun atau untuk beberapa tahun yang ditentukan, tiga di antara mereka bersedia terpilih menjadi pecalang atau “polisi adat”.
Begitu juga saat ada kegiatan besar, seperti piodalan di kahyangan tiga, mereka ikut ngaturang ayah, yaitu kerja sosial yang dilakukan dengan gotong royong. Semua aktivitas ini (suka-duka, pecalang, ngaturang ayah) dilakukan sama seperti umat Hindu pada umumnya, salah satunya dengan berpakaian adat Bali.[bbn/ Jurnal Lektur Keagamaan/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1075 Kali
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 1058 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 404 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun