Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Ganja Medis Sebagai Obat Dilegalkan di Thailand, Bagaimana di Indonesia?
Senin, 5 Agustus 2019,
11:02 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Untuk pertama kalinya, Thailand dalam waktu dekat akan mendistribusikan ganja medis sebagai obat secara legal.
[pilihan-redaksi]
Dikutip dari Suara.com, laman CNN menulis sekitar 10 ribu botol ganja medis siap didistribusikan, dan bisa diresepkan oleh dokter untuk pasien penyakit alzheimer, parkinson, hingga perawatan paliatif. Muncul pertanyaan, akankah penggunaan ganja medis sebagai obat bisa dilakukan secara legal di Indonesia?
Dikutip dari Suara.com, laman CNN menulis sekitar 10 ribu botol ganja medis siap didistribusikan, dan bisa diresepkan oleh dokter untuk pasien penyakit alzheimer, parkinson, hingga perawatan paliatif. Muncul pertanyaan, akankah penggunaan ganja medis sebagai obat bisa dilakukan secara legal di Indonesia?
Menjawab pertanyaan ini, Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Sp.U, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan, menyebut klaim manfaat ganja medis untuk kesehatan masih kontroversi, terutama di Indonesia.
Dijelaskan Akmal, ada dua hal yang harus diperhatikan saat melakukan penelitian untuk obat baru. Pertama adalah efikasi alias khasiat dan keampuhan obat, dan kedua adalah efek samping.
"Pertama dilihat dulu efek sampingnya. Kalau efek sampingnya bagus (rendah atau tanpa efek samping), baru kita bicara khasiatnya," ujar Akmal, ditemui usai pembukaan Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (4/8/2019).
Ia menyebut hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah soal ganja medis di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di luar negeri menurutnya tidak bisa dijadikan tolak ukur standar pelayanan kesehatan di Indonesia.
[pilihan-redaksi2]
"Kemenkes nggak bisa hanya dengan lihat data dari luar bagus, lalu kita pakai di sini, nggak bisa. Kecuali emergensi, nggak ada obat lain, dan (ganja medis) hanya satu-satunya," terang Akmal.
"Kemenkes nggak bisa hanya dengan lihat data dari luar bagus, lalu kita pakai di sini, nggak bisa. Kecuali emergensi, nggak ada obat lain, dan (ganja medis) hanya satu-satunya," terang Akmal.
Apalagi, penggunaan ganja masih menjadi salah satu masalah penyalahgunaan narkotika yang perlu diatasi dan mendapatkan perhatian.
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2807 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2031 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1977 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026