Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 April 2026
Alasan Desa Tenganan Keluarkan Awig-Awig Larang Pengolahan Tuak Menjadi Arak dan Gula
Selasa, 6 Agustus 2019,
20:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Di Bali khususnya di Kabupaten Karangasem tuak menjadi salah satu minuman tradisional yang paling banyak digemari.
[pilihan-redaksi]
Selain dikonsumsi dan dijadikan sebagai sarana pelengkap upakara, tuak juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku gula dan arak tradisional.
Selain dikonsumsi dan dijadikan sebagai sarana pelengkap upakara, tuak juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku gula dan arak tradisional.
Namun taukah kita, bahwa ada satu Desa di Kabupaten ujung timur pulau Bali ini memiliki sebuah aturan atau awig yang mengatur tentang larangan pemanfaatan tuak untuk dijadikan arak maupun gula.
Awig-Awig ini benar - benar diterapkan secara turun temurun di Desa Tenganan, Manggis, Karangasem. Memang sedikit sulit untuk dipahami, ketika ada potensi pemanfaatan tuak untuk menghasilkan nilai ekonomi yang lebih baik, justru terganjal aturan atau awig itu sendiri.
Namun jika dilihat lebih jauh dan dipahami secara mendalam, dibalik aturan awig yang sampai sekarang tetap dijalankan ini, rupanya terdapat satu nilai dan pesan yang diwariskan oleh para leluhur terdahulu mengenai larangan pemanfaatan tuak di Desa Tenganan.
Dijelaskan Kepala Desa Tenganan, I Putu Yudiana beberapa waktu lalu, di Desa Tenganan terdapat sebuah Awig yang melarang pemanfaatan tuak sebagai arak dan gula. Menurutnya, terkait dengan Awig ini memang ada beberapa asumsi seperti misalnya Tuak dilarang untuk dimanfaatkan atau diolah menjdi gula dan arak karena setiap upacara hampir seluruhnya menggunakan tuak.
[pilihan-redaksi2]
"Apapun upacara pasti selalu didahului dan diakhiri dengan tuak, jika diolah menjadi arak atau gula tentunya bisa kesulitan mendapatkan tuak karema sudah diolah semuanya," ujarnya.
"Apapun upacara pasti selalu didahului dan diakhiri dengan tuak, jika diolah menjadi arak atau gula tentunya bisa kesulitan mendapatkan tuak karema sudah diolah semuanya," ujarnya.
Asumsi lainnya juga ada yang memgkaitkan dengan cara para leluhur untuk melindungi alam yang ada di wilayah Desa Tenganan, Apabila tuak diolah menjadi arah ataupun gula tentunya akan memerlukan kayu bakar yabg cukup banyak, kemungkinan para leluhur terdahulu takut suatu ketika untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar warga bakal menebang kayu yang nantinya tentu akan merusak alam di wilayah Desa mengingat wilayah Desa Tenganan dikelilingi perbukitan.
"Mungkin lewat awig ini para tetua terdahulu ingin menjaga kelangsungan alam yang ada di Desa Tenganan," tuturnya. (bbn/igs/rob)
Berita Karangasem Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3789 Kali
02
03
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1732 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026