Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Hewan Peliharaan Dominan Penyebab Kasus Rabies di Karangasem
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Tingginya angka kasus gigitan hewan positif rabies di Kabupaten Karangasem rupanya sebagaian besar disebabkan oleh hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
[pilihan-redaksi]
Bahkan kasus gigitan terbanyak pelakunya adalah hewan peliharaan seperti anak anjing dan kucing yang rentan usianya masih dibawah dua bulan. Menurut Kasi Keswan UPTD Puskeswan Karangasem, I Nengah Kepeng saat ditemui beberapa waktu lalu. Kebanyakan kasus gigitan memang justru dilakukan oleh hewan peliharaan.
“Kasus gigitan paling banyak oleh hewan rumahan, terutama anak anjing yang rata–rata usianya di bawah dua tahun,” ujarnya.
Yang menjadikan hewan peliharaan seperti anak anjing dan kucing sebagai pelaku terbanyak dalam kasus gigitan hewan positif rabies di Karangasem karena masih kurangnya kesadaran dari pemiliknya sendiri.
Kebanyakan ketika mengadopsi anak anjing, biasanya hanya diadopsi begitu saja tanpa divaksin terlebih dahulu sebelum dilepaskan. Disinilah sangat rawan terjadi gigitan karena anak anjing biasanya jadi mainan oleh anak–anak.
Selain itu, faktor lain juga disebabkan oleh pemilik yang mulai bosan memelihara. Pasalnya banyak kasus anak anjing hanya diperhatikan dan dirawat ketika kecil saja setelah beranjak dewasa karena sulit dikendalikan sehingga tidak merawatnya dengan benar termasuk tidak memberikan vaksin secara teratur.
Idealnya, ketika seseorang mengadopsi anak anjing atau kucing, hendaknya jangan diberikan berinteraksi langsung kepada anak –anak, sebaiknya jika sudah berusia satu bulan hewan divaksin. Setelah vaksin pertama tiga bulan kemudian kembali divaksin.
Setelah vaksin kedua barulah dilakukan vaksin secara rutin setiap satu tahun sekali.
Untuk vaksin rabies sendiri disediakan secara gratis oleh Puskeswa bahkan vaksin gratis juga sudah tersedia di tempat praktek–praktek dokter hewan.
Pihak UPTD sendiri telah berupaya melakukan upaya untuk menekan angka gigitan hewan positif rabies. Salah satunya dengan mengadakan menggelar vaksin keliling berkoordinasi dengan pihak Provinsi yang dilakukan setiap setahun sekali dengan menerjunkan anggota untuk menangkap anjing yang dilepasliar agar bisa divaksin.
Selain vaksin keliling, sosialisasi juga digencarkan dengan melibatkan tokoh masyarakat serta menggelar kegiatan kontrol populasi dengan cara sterilisasi hewan peliharaan baik pejantan mupun betinanya.
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2956 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2019 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun