Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 13 Juni 2026
Wacana "Nyipeng" dan Penanganan Covid-19 di Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Penyelamatan masyarakat sudah mendesak. Kenapa harus Agama Hindu atau Budaya Bali dipakai alat untuk mendesak umat atau warganya melalui MDA dengan produk "sipeng"-nya?
[pilihan-redaksi]
Produk rekayasa sipeng atau apalah itu namanya tidak bisa begitu saja dicetak. Warga Bali perlu bernafas, hening dan cipta untuk bisa menerima sebuah keputusan yang tidak biasa dalam kehidupannya. Apalagi demografi cultural desa adat di Bali mempunyai pemahaman Desa Maucare, Desa Mewicara, Desa Kala Patra dan lain-lain dan mempunyai pakem Sime yang berbeda-beda.
Singkatnya pemahaman sipeng atau nama lainnya perlu waktu penerapan dan sosialisasi. Biarlah saat ini Pemprov Bali yang punya keputusan (1 pintu) dalam memerangi Covid-19 untuk warganya. Beban yang diterima Pemprov Bali sudah berat, dalam situasi yang darurat seperti ini, belum lagi kabupaten/kotanya.
Maka dari itu hiruk pikuk Nyepi tambahan, Sipeng atau apalah itu, PHDI selaku lembaga umat Hindu untuk arif dan bijak mengambil keputusannya. Dan keputusan itu akan menentukan baik atau buruknya lembaga PHDI, MDA dan lain-lain di mata masyarakat Bali di saat keadaan luar biasa dan darurat ini. Jangan membuat masyarakat Bali jadi "Campah" di kemudian hari.
Penulis: Putu Iwan Karna
Reporter: bbn/opn
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli