Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
"Caru" Identik Menjaga Kesuburan Tanah dalam Konsep Pertanian Berkelanjutan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Upacara caru atau "Mecaru" dalam masyarakat Hindu Bali secara universal lebih ditujukan untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam. Bila ditinjau dari konsep ilmiah pertanian berkelanjutan, mecaru merupakan upaya memupuk dalam upaya menjaga keseimbangan unsur hara dan kesuburan tanah secara fisik, kimia dan biologi.
[pilihan-redaksi]
“Dalam banten caru semuanya ada, protein, unsur hara, karbon yang apabila ditanam bermanfaat bagi tanah dan lingkungan sekitarnya. Selain sebagai sumber unsur hara juga sebagai sumber energi bagi makroorganisme dan mikroorganisme tanah,” kata Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Udayana Dr. Ir. Ni Luh Kartini, MS saat ditemui di Kampus Bukit Jimbaran pada Kamis (16/7).
Menurut perempuan yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas pertanian Unud tersebut, sejak dulu para leluhur telah mengajarkan untuk menanam banten caru agar memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Kenyataanya sekarang sering ditemui usai pelaksanaan pecaruan, banten caru dibuang ke sungai atau TPA.
Kartini yang juga merupakan pendiri Yayasan Bali Organic Association (BOA) mengungkapkan apabila dipelajari lebih cermat dalam banten caru terdapat penggunaan arak, berem atau tuak. Bahan-bahan tersebut secara ilmiah dapat diterjemahkan sebagai aktivator untuk mempercepat dekomposisi bahan organik.
“Penambahan aktivator kan untuk meningkatkan jumlah organisme dan populasi organisme dalam pengomposan. Kalau tidak ada arak atau tuak para tetua dulu menyarankan memakai air gula. Jadi dari dulu kita sudah diajarkan untuk menanam caru, bukan membuang ke TPA yang justru akan menimbulkan masalah,” ujar Kartini.
Kartini menegaskan bahwa caru Ibarat memberi hadiah atau mempersembahkan buat tanah demi kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia kedepan. Dalam perkembanganya saat ini agar kebiasaan menanam caru juga diikuti dengan kebiasaan untuk menghindari penggunaan pembungkus plastik dalam membuat banten caru, karena perlu waktu panjang untuk mengurai bahan plastik.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3877 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2318 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1931 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1789 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun