Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Jika Tsunami Terjadi, Jalur Evakuasi di Pesisir Selatan Banyuwangi Sulit
beritabali.com/ist/suara.com/Jika Tsunami Terjadi, Jalur Evakuasi di Pesisir Selatan Banyuwangi Sulit
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Dalam simulasi jalur evakuasi bencana tsunami di wilayah pesisir selatan Banyuwangi, Jawa Timur, bisa dibilang sangat sulit. Hal ini diungkapkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat saat mengecek langsung kondisi di lapangan.
Di lapangan, BMKG menemukan kendala jalur evakuasi warga di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, cukup sulit dan lokasinya jauh.
Mestinya, kata Dwi, evakuasi butuh waktu yang lebih cepat dari estimasi kejadian bencana. Tapi, ini bakal sulit dilakukan karena jarak, akses dan infrastrukturnya kurang memadai.
"Lalu kita jalani kita pura-pura sedang evakuasi kita simulasikan ternyata saat berjalan perlu waktu 10 menit. Itu padahal dari perhitungan teknologi yang ada di BMKG, datangnya tsunami itu 10 menit waktu untuk evakuasi juga 10 menit itu mepet," kata Kepala BMKG Pusat, Dwikorita Karnawati, seperti dikutip dari beritajatim.com, jejaring media suara.com, Jumat (05/03/2021).
"Paling tidak ya setengahnya dari waktu yang ada (10 menit). Tapi tidak mungkin karena jembatannya aja juga nggak ada, jalurnya juga masih jauh sehingga kita catat semua kelemahan-kelemahan ini untuk bahan mitigasi," katanya.
Dwikorita menyebut, jalur evakuasi tsunami di Pancer juga rumit. Bahkan tergolong sulit dilalui. Hal itu akan menjadi catatan BMKG untuk mencari solusi nanti.
"Sehingga harus menyeberangi sungai. Padahal sistem dari evakuasi tsunami itu menghindari sungai menghindari pantai. Ini kok malah menyeberangi sungai yang dari pantai jadi harus dicek di lapangan," ujarnya.
"Kita tatap dan itu yang harus dijadikan solusi untuk segera di tangani. Agar masyarakat tidak kocar-kacir mau lari kemana masuk sungai bahaya. Jadi tujuan kami mencegah kekacauan dan kegagalan peringatan dini ini,” jelasnya.
Dia mencatat potensi terjadinya tsunami makin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan data jumlah peningkatan aktivitas kegempaan khususnya di perairan selatan Jawa Timur.
"Kalau kita terlalu lama mengatasinya bisa keduluan tsunaminya. Semua sistemnya udah siap, tapi sarana prasarana evakuasinya yang belum siap. Percuma ada peringatan dini tapi tidak diberi sarana prasarana yang memadai jadi hanya panik," ujarnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5920 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan