Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Pura Kereban Langit di Sading (2): Diyakini Tempat Memohon Keturunan
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sejak kelahiran Sri Masula-Masuli, banyak masyarakat yang meyakini jika pura tersebut tempat memohon keturunan.
Pemangku Pura Kereban Langit, Jero Witera mengatakan, sampai sekarang banyak pamedek yang sudah terbukti memiliki momongan usai nunas pemargi di Pura Kereban Langit. Namun Jero Witera tidak berani menjamin jika setelah sembahyang di pura ini langsung mendapatkan momongan, karena hal tersebut adalah kehendak Tuhan juga.
“Saya sebagai pemangku tidak menjamin bisa mendapatkan anak atau tidak dari sini. Karena itu kehendak Tuhan. Ada yang belum, ada yang sedang, ada pula yang sudah lahir. Tapi sampai sekarang banyak yang sudah memiliki keturunan. Banyak juga yang mesesangi, jika punya keturunan mesesangi kain putih kuning, tedung, dan lain-lain,” beber Jero Witera.
Mantan Bendesa Adat Sading tahun 2013-2018 itu melanjutkan, dari penuturan pamedek yang nangkil, rata-rata mempunyai pengalaman menikah lima tahun tak kunjung dikaruniai anak. Ada pula yang nangkil saat belum menikah. Dengan harapan, agar setelah menikah langsung bisa hamil.
"Ada yang belum kawin juga nunas ica ke sini. Agar setelah menikah cepat diberikan momongan. Istilahnya, persiapan doa sebelum menikah. Ada juga yang nangkil beberapa kali, tapi dia tetap sabar. Ada yang nangkil keempat kali baru bisa hamil. Tidak berani menjamin sekali ke sini langsung hamil. Karena itu kehendak Beliau,” tambahnya.
Adapun piodalan di Pura Kereban Langit dilaksanakan setiap Buda Cemeng Ukir. Biaya piodalan sepenuhnya dari pangempon sebanyak 8 KK itu. Sedangkan dari desa adat, hanya prajurunya saja yang nangkil saat odalan. Di luar piodalan, pada hari-hari tertentu sangat ramai pamedek yang datang. Seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon.
“Dulu sebelum covid-19, biasa kajeng kliwon, purnama, tilem, ramai. Dulu sampai berjubel dan kesulitan nyari parkir, sehingga kami harus koordinasi dengan pecalang. Sejak bulan Maret 2020 sampai sekarang, kami pengempon pura harus membatasi pamedek, karena situasi covid-19,” kata Jero Witera.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2614 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan