Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Pura Kereban Langit di Sading (2): Diyakini Tempat Memohon Keturunan
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sejak kelahiran Sri Masula-Masuli, banyak masyarakat yang meyakini jika pura tersebut tempat memohon keturunan.
Pemangku Pura Kereban Langit, Jero Witera mengatakan, sampai sekarang banyak pamedek yang sudah terbukti memiliki momongan usai nunas pemargi di Pura Kereban Langit. Namun Jero Witera tidak berani menjamin jika setelah sembahyang di pura ini langsung mendapatkan momongan, karena hal tersebut adalah kehendak Tuhan juga.
“Saya sebagai pemangku tidak menjamin bisa mendapatkan anak atau tidak dari sini. Karena itu kehendak Tuhan. Ada yang belum, ada yang sedang, ada pula yang sudah lahir. Tapi sampai sekarang banyak yang sudah memiliki keturunan. Banyak juga yang mesesangi, jika punya keturunan mesesangi kain putih kuning, tedung, dan lain-lain,” beber Jero Witera.
Mantan Bendesa Adat Sading tahun 2013-2018 itu melanjutkan, dari penuturan pamedek yang nangkil, rata-rata mempunyai pengalaman menikah lima tahun tak kunjung dikaruniai anak. Ada pula yang nangkil saat belum menikah. Dengan harapan, agar setelah menikah langsung bisa hamil.
"Ada yang belum kawin juga nunas ica ke sini. Agar setelah menikah cepat diberikan momongan. Istilahnya, persiapan doa sebelum menikah. Ada juga yang nangkil beberapa kali, tapi dia tetap sabar. Ada yang nangkil keempat kali baru bisa hamil. Tidak berani menjamin sekali ke sini langsung hamil. Karena itu kehendak Beliau,” tambahnya.
Adapun piodalan di Pura Kereban Langit dilaksanakan setiap Buda Cemeng Ukir. Biaya piodalan sepenuhnya dari pangempon sebanyak 8 KK itu. Sedangkan dari desa adat, hanya prajurunya saja yang nangkil saat odalan. Di luar piodalan, pada hari-hari tertentu sangat ramai pamedek yang datang. Seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon.
“Dulu sebelum covid-19, biasa kajeng kliwon, purnama, tilem, ramai. Dulu sampai berjubel dan kesulitan nyari parkir, sehingga kami harus koordinasi dengan pecalang. Sejak bulan Maret 2020 sampai sekarang, kami pengempon pura harus membatasi pamedek, karena situasi covid-19,” kata Jero Witera.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2765 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2026 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1962 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1799 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun