Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Akibat Pandemi Covid-19, Amerika Serikat Terancam Krisis Boba

Senin, 24 Mei 2021, 10:35 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist/suara.com/Akibat Pandemi Covid-19, Amerika Serikat Terancam Krisis Boba

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DUNIA.

Pencinta "bubble tea" di Amerika Serikat akhir-akhir ini sedang mengalami kesulitan karena terjadi krisis boba akibat pandemi Covid-19.

Menyadur World Of Buzz, Senin (24/5/2021) krisis tersebut tersebut terjadi lantaran logistik untuk membuat boba terhambat akibat pandemi Covid-10 dan banyak toko boba yang tidak memiliki cukup pasokan.

Menurut laporan NPR, kelangkaan boba di Negeri Paman Sam yang telah terjadi selama berbulan-bulan karena masalah logistik.

Pengiriman logistik boba dari Asia ke Amerika Utara mengalami hambatan pemrosesan yang membuatnya tidak bisa masuk ke Amerika Serikat.

Oliver Yoon, wakil presiden penjualan dan pemasaran global untuk Boba Direct, pemasok bahan bubble tea menjelaskan bahwa hambatan tersebut terjadi di pelabuhan.

"Ada arus besar kontainer yang datang dari luar negeri karena e-commerce, hanya karena belanja konsumen, dan sayangnya, tidak cukup orang untuk membantu mengeluarkan kontainer ini dari kapal," kata Yoon dikutip dari NPR.

Kurangnya pekerja pelabuhan di pelabuhan dan kekurangan sopir membuat terhambatnya pengiriman dan itu membuat produk tertahan untuk sampai ke tangan pengecer, kata Yoon.

"Yang saya dengar dari perusahaan ekspedisi dan industri angkutan truk adalah, 'Kita semua butuh bantuan. Kita butuh pekerja tambahan,'" katanya.

Abdurahman Sharif, pemilik Chi Tea di Lombard, Ill., Pinggiran Chicago merasakan akibat terhambatnya pasokan boba tersebut.

"Dalam sebulan terakhir, setiap minggu, kami harus khawatir tentang bagaimana kami kehabisan rasa ini, tapioka ini. Kami kehabisan barang-barang ini, bahkan hingga sedotan," kata Sharif.

Sejak membuka bisnisnya delapan bulan lalu, Sharif mengatakan bahwa dia berfokus untuk membangun citra toko dan kepercayaan pelanggan.

"Setiap minggu kami harus menghilangkan rasa dari menu kami karena kami tidak memilikinya, dan kami tidak akan memakannya selama dua atau tiga minggu," katanya.

Penantian bahan mungkin lebih lama dari itu. Tebakan terbaik.

Yoon memprediksi pasokan bahan baku boba tersebut akan kembali lancar pada pertengahan musim panas. Dia mendesak orang-orang untuk bersabar.(sumber: suara.com)


 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami