Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Diterpa Gelombang Panas, Ikan Salmon di Sungai Mati
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kawanan ikan salmon di Sungai Columbia mati secara tidak wajar karena kondisi perairan yang terjang gelombang panas, membuatnya seakaan mati direbus hidup-hidup.
Menyadur The Hill Rabu (28/7/2021) kawanan salmon yang mati di Sungai Columbia tersebut karena gelombang panas yang menerjang Pacific Northwest.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan ikan salmon yang mati tidak wajar. Bagian kulitnya terkelupas seakaan direbus hidup-hidup.
"Sungguh memilukan melihat ikan-ikan ini mati secara tidak wajar," ujar Brett VandenHeuvel, direktur eksekutif Columbia Riverkeeper kepada The Guardian.
"Dan lebih buruk lagi, ini adalah masalah yang disebabkan oleh manusia, dan itu benar-benar membuat saya berpikir tentang masa depan." sambungnya.
Salmon dewasa tidak dapat bermigrasi ke hulu ketika suhu air di atas 68 derajat Fahrenheit, menurut Columbia Riverkeeper. Sedangkan suhu air di perairan tersebut mencapai 70 derajat karena gelombang panas baru-baru ini.
Terjebak di air hangat dan tidak bisa bertelur, ikan-ikan salmon tersebut tertutup lesi merah dan jamur putih karena panas dan stres, yang membuatnya terlihat seperti mati direbus hidup-hidup.
Ikan-ikan salmon tersebut tidak tertolong karena suhu semakin lama semakin panas, meskipun ada peraturan yang mewajibkan memberikan perlindungan di bawah Undang-Undang Air Bersih.
"Sungguh mengerikan bahwa kami memiliki solusi untuk menyelamatkan salmon, tetapi kami tidak melakukannya," kata Don Sampson, anggota Konfederasi Suku Umatilla Indian Reservation dan anggota dewan penasihat untuk Northwest Tribal Salmon Alliance.
"Kami tidak memiliki kemampuan politik, anggota Kongres kami juga tidak memiliki kekuatan politik atau keinginan untuk melestarikan salmon demi generasi mendatang." sambungnya.
Tidak jauh dari Sungai Columbia, diperkirakan satu miliar hewan laut mati di Laut Salish di lepas pantai Vancouver akibat gelombang panas baru-baru ini.
Gelombang panas dan kekeringan parah yang melanda bagian barat AS dan wilayah sekitarnya merupakan gejala lanjutan dari perubahan iklim, menurut sebuah studi baru.
"Saya melihat ini sebagai visi yang sangat menyedihkan untuk masa depan kita. Tapi saya juga melihatnya sebagai ajakan untuk bertindak. Ada langkah-langkah mitigasi yang bisa kita ambil untuk menyelamatkan salmon, untuk mendinginkan sungai kita," kata VandenHeuvel kepada Guardian.
"Dan jika video ini tidak menginspirasi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi." pungkasnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5910 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4633 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2598 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2252 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2212 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan