Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Diterpa Gelombang Panas, Ikan Salmon di Sungai Mati
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kawanan ikan salmon di Sungai Columbia mati secara tidak wajar karena kondisi perairan yang terjang gelombang panas, membuatnya seakaan mati direbus hidup-hidup.
Menyadur The Hill Rabu (28/7/2021) kawanan salmon yang mati di Sungai Columbia tersebut karena gelombang panas yang menerjang Pacific Northwest.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan ikan salmon yang mati tidak wajar. Bagian kulitnya terkelupas seakaan direbus hidup-hidup.
"Sungguh memilukan melihat ikan-ikan ini mati secara tidak wajar," ujar Brett VandenHeuvel, direktur eksekutif Columbia Riverkeeper kepada The Guardian.
"Dan lebih buruk lagi, ini adalah masalah yang disebabkan oleh manusia, dan itu benar-benar membuat saya berpikir tentang masa depan." sambungnya.
Salmon dewasa tidak dapat bermigrasi ke hulu ketika suhu air di atas 68 derajat Fahrenheit, menurut Columbia Riverkeeper. Sedangkan suhu air di perairan tersebut mencapai 70 derajat karena gelombang panas baru-baru ini.
Terjebak di air hangat dan tidak bisa bertelur, ikan-ikan salmon tersebut tertutup lesi merah dan jamur putih karena panas dan stres, yang membuatnya terlihat seperti mati direbus hidup-hidup.
Ikan-ikan salmon tersebut tidak tertolong karena suhu semakin lama semakin panas, meskipun ada peraturan yang mewajibkan memberikan perlindungan di bawah Undang-Undang Air Bersih.
"Sungguh mengerikan bahwa kami memiliki solusi untuk menyelamatkan salmon, tetapi kami tidak melakukannya," kata Don Sampson, anggota Konfederasi Suku Umatilla Indian Reservation dan anggota dewan penasihat untuk Northwest Tribal Salmon Alliance.
"Kami tidak memiliki kemampuan politik, anggota Kongres kami juga tidak memiliki kekuatan politik atau keinginan untuk melestarikan salmon demi generasi mendatang." sambungnya.
Tidak jauh dari Sungai Columbia, diperkirakan satu miliar hewan laut mati di Laut Salish di lepas pantai Vancouver akibat gelombang panas baru-baru ini.
Gelombang panas dan kekeringan parah yang melanda bagian barat AS dan wilayah sekitarnya merupakan gejala lanjutan dari perubahan iklim, menurut sebuah studi baru.
"Saya melihat ini sebagai visi yang sangat menyedihkan untuk masa depan kita. Tapi saya juga melihatnya sebagai ajakan untuk bertindak. Ada langkah-langkah mitigasi yang bisa kita ambil untuk menyelamatkan salmon, untuk mendinginkan sungai kita," kata VandenHeuvel kepada Guardian.
"Dan jika video ini tidak menginspirasi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi." pungkasnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3809 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1753 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang