Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Usai Sudhi Wadani, Ini Nama Bali Sukmawati
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Putri Presiden Soekarno, Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri resmi menyandang nama Bali 'Ratu Niang Sukmawati' setelah pelaksanaan prosesi Sudhi Wadani.
Dalam jumpa pers di The Soekarno Center, Desa Adat Mancawarna, Tampaksiring, Gianyar, Bali, Selasa (26/10) sore, putri ketiga Proklamator RI Dr Ir Soekarno ini mengaku tepat di usia 70 tahun berketetapan hati kembali pada Agama leluhur yakni eyang putrinya Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.
Namun pergolakan untuk memeluk Hindu sudah dirasakan selama 66 tahun terakhir. Berawal saat Sukmawati di usia 4 tahun, merasa layak menjadi penari Bali.
"Jadi di usia ini, saya sudah berketetapan hati kembali ke Agama leluhur," ungkapnya didampingi senator DPD RI Dr IGN Arya Wedakarna MWS dan anaknya. Sukmawati mengaku sejak kecil sudah cinta terhadap seni budaya Bali.
"Ini merupakan suatu proses perjalanan panjang menjadi Hindu Bali. Kurang lebih 66 tahun, proses panjang memutuskan sebagai penganut Hindu," jelasnya.
Mengenai nama Ratu Niang, Sukmawati meminta Arya Wedakarna untuk menjelaskan. "Ini saya kira pak Arya yang jelaskan deh," ujarnya.
Menurut Arya Wedakarna, nama Ratu Niang bukan hal berlebihan bagi sosok Sukmawati yang cucu Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, putri Proklamator RI Soekarno, serta pernah hidup di keraton.
"Maka dari itu tidak ada suatu hal yang surprise. Niang itu nenek, ninik. Ratu merupakan tanda kehormatan. Seperti kita di Bali, memanggil Ratu Biang. Tapi, mau dipanggil mba, ibu terserah saja," ujarnya.
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 750 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 683 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 381 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 328 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun