Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
206 Siswa SMAN 1 Abang Ikuti Skrining Kesehatan Mental
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Sebanyak 206 siswa kelas XII SMAN 1 Abang, Kabupaten Karangasem, mengikuti edukasi dan skrining kesehatan mental remaja, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut mengajak para siswa mengenali kesehatan mental, memahami risiko adiksi, serta mengetahui kapan rasa cemas yang dialami masih tergolong normal dan kapan membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Edukasi dan skrining ini merupakan kolaborasi Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Suryani Institute for Mental Health, dan University of Sydney. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi sekaligus mendorong deteksi dini masalah kesehatan mental pada remaja.
Kegiatan diikuti siswa kelas XII.1 hingga XII.6 dan diterima langsung Kepala Sekolah SMAN 1 Abang, I Putu Suweta, S.Pd., M.Pd. Turut hadir Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS, selaku Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, bersama tim Suryani Institute for Mental Health.
Kepala Sekolah SMAN 1 Abang, I Putu Suweta, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana sekolah membantu peserta didik tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik maupun mental.
“Anak-anak kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain tuntutan akademik dan persiapan masa depan, mereka juga hidup sangat dekat dengan media sosial dan berbagai tekanan di lingkungan pergaulan. Karena itu, kami menyambut baik kegiatan ini agar siswa semakin mengenali dirinya, berani berbicara ketika menghadapi masalah, dan mengetahui ke mana harus mencari pertolongan,” ujar I Putu Suweta.
Siswa Belajar Mengenali Kesehatan Mental
Penyuluhan pertama disampaikan dr. Felisiana melalui materi “Mengenali Kesehatan Mental pada Remaja”. Para siswa diajak memahami bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan jiwa dan kemampuan berinteraksi secara sosial.
Masa remaja menjadi periode penting karena terjadi perubahan biologis, perkembangan identitas dan emosi, serta meningkatnya pengaruh teman sebaya dan lingkungan.
Sejumlah faktor seperti tekanan akademik, relasi keluarga dan teman, penggunaan media sosial dan gawai, serta pengalaman buruk dapat memengaruhi kesehatan mental remaja.
Materi tersebut juga memperkenalkan berbagai persoalan yang perlu dikenali, di antaranya kecemasan, bullying, self-harm, penyalahgunaan zat, adiksi gawai, depresi, hingga ide bunuh diri.
“Sehat mental bukan berarti kita harus selalu merasa senang atau tidak boleh sedih dan tertekan. Remaja perlu belajar mengenali perubahan pada dirinya. Ketika kesedihan, kecemasan, perubahan tidur, kehilangan minat, atau kesulitan berkonsentrasi mulai menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan takut untuk bercerita dan mencari pertolongan,” jelas dr. Felisiana.
Para siswa juga diingatkan agar tidak melakukan diagnosis sendiri. Ketika menemukan teman yang terlihat sangat sedih, khawatir, atau tertekan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mendekati dan mendengarkan tanpa menghakimi.
Penggunaan Gawai dan Risiko Adiksi
Materi mengenai adiksi disampaikan dr. Komang Jourdy Kharisma Pradnyana. Siswa diajak melihat lebih kritis kebiasaan sehari-hari dan memahami bahwa adiksi tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering suatu aktivitas dilakukan.
Kemampuan mengendalikan perilaku serta dampaknya terhadap kehidupan menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan gawai dan media sosial yang semakin dekat dengan kehidupan remaja.
Dalam materi tersebut, penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan disebut dapat berdampak negatif terhadap pola pikir dan kesehatan mental anak dan remaja.
“Kita perlu mulai bertanya: apakah saya masih mengendalikan kebiasaan ini, atau justru kebiasaan ini yang mulai mengendalikan saya? Ketika suatu aktivitas membuat kita sulit berhenti, mengganggu tidur, belajar, hubungan dengan keluarga atau teman, bahkan membuat tanggung jawab sehari-hari mulai terabaikan, itu menjadi tanda bahwa kita perlu lebih waspada,” ujar dr. Jourdy.
Menurutnya, edukasi mengenai adiksi penting dilakukan tanpa memberikan stigma kepada remaja. Pendekatan yang menghakimi justru dapat membuat seseorang semakin enggan menceritakan masalah yang dialaminya.
Siswa Kelas XII Belajar Memahami Kecemasan
Materi ketiga mengenai “Kecemasan pada Remaja” disampaikan Cokorda Istri Agung Dewinta Adnyani, Sked. Topik tersebut dinilai relevan dengan kondisi siswa kelas XII yang menghadapi ujian, kelulusan, pilihan pendidikan lanjutan, serta berbagai ketidakpastian mengenai masa depan.
Cokorda Dewinta menjelaskan bahwa rasa cemas merupakan respons tubuh dan pikiran ketika seseorang merasakan ancaman atau sesuatu yang mengkhawatirkan. Rasa cemas sebelum ujian, misalnya, dapat mendorong seseorang untuk belajar dan mempersiapkan diri.
Dengan demikian, rasa cemas tidak secara otomatis berarti gangguan kecemasan.
“Cemas itu bukan tanda kamu lemah. Cemas adalah alarm tubuh. Alarm itu sebenarnya membantu kita mempersiapkan diri menghadapi sesuatu. Tetapi kalau alarmnya terlalu kuat, terlalu sering, terlalu lama, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu sekolah, tidur, keluarga, pertemanan atau konsentrasi, alarm itu perlu kita periksa,” ungkap Dewinta.
Para siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah langkah sederhana untuk membantu mengelola kecemasan, mulai dari latihan pernapasan, aktivitas fisik, menuliskan hal yang dikhawatirkan, hingga membangun kebiasaan yang lebih sehat dalam menggunakan media sosial.

Sekolah Didorong Jadi Ruang Aman
Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS, menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Menurutnya, sebagian besar keseharian remaja berlangsung bersama teman sebaya dan guru. Karena itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang aman bagi remaja untuk tumbuh dan memperoleh dukungan ketika menghadapi masalah.
“Remaja tidak hidup sendiri. Ada keluarga, teman, guru dan lingkungan sekolah di sekeliling mereka. Ketika seluruh lingkungan ini memiliki literasi kesehatan mental yang baik, perubahan pada seorang remaja dapat dikenali lebih awal dan pertolongan dapat diberikan sebelum masalah menjadi semakin berat,” ujar Prof. Cokorda.
Ia juga mengajak siswa membangun budaya pertemanan yang tidak menghakimi. “Kadang-kadang orang pertama yang mendengar masalah seorang remaja bukan orang tua atau dokter, tetapi temannya sendiri. Karena itu, jadilah teman yang mau mendengar. Kita tidak harus mempunyai semua jawaban. Yang penting adalah tidak menghakimi dan tahu kapan harus mengajak teman mencari bantuan kepada orang dewasa atau tenaga profesional,” tambahnya.
Siswa Aktif Bertanya
Antusiasme siswa terlihat ketika sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Sejumlah siswa menyampaikan pertanyaan kepada narasumber mengenai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa yang aktif berdiskusi mendapatkan hadiah buku sebagai bentuk apresiasi atas keberanian bertanya dan menyampaikan pandangan.
Salah seorang siswa mengaku pembahasan mengenai kecemasan relevan dengan kondisi siswa kelas XII yang mulai menghadapi berbagai tuntutan sekaligus keputusan mengenai masa depan.
“Sebagai siswa kelas XII pasti ada rasa cemas memikirkan ujian, kelulusan, dan nanti mau melanjutkan ke mana. Dari kegiatan ini saya jadi tahu kalau cemas itu sebenarnya bisa normal. Tetapi kami juga jadi tahu kapan rasa cemas sudah mulai mengganggu dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan,” ungkap salah seorang peserta.
Siswa lainnya menilai pembahasan mengenai adiksi membuatnya lebih memahami bahwa penggunaan gawai tidak hanya dapat dinilai berdasarkan lamanya waktu menggunakan perangkat.
“Saya jadi lebih sadar bahwa yang penting bukan cuma berapa jam kita main HP, tetapi apakah kita masih bisa mengontrolnya dan apakah itu sudah mengganggu belajar atau kegiatan lain. Materinya dekat sekali dengan kehidupan kami sehari-hari,” tuturnya.
Skrining Kesehatan Mental melalui Harmoni Jiwa
Setelah mendapatkan edukasi, para siswa mengikuti skrining kesehatan mental secara digital melalui Harmoni Jiwa.
Platform tersebut digunakan sebagai sarana penilaian awal yang mudah dan rahasia untuk meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu identifikasi dini siswa yang mungkin membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Harmoni Jiwa merupakan hasil proyek KONEKSI yang melibatkan Universitas Udayana dan University of Sydney.
Baca juga:
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental Mahasiswa UIN Walisongo Lewat Meditasi
Prof. Cokorda mengingatkan bahwa hasil skrining bukan merupakan diagnosis. “Skrining bukan untuk memberi label kepada siswa. Skrining adalah pintu awal agar seseorang lebih mengenali kondisi dirinya. Jika ditemukan sesuatu yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, barulah kita dapat mengarahkan kepada pendampingan dan pelayanan profesional yang tepat,” jelasnya.
Kolaborasi Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Suryani Institute for Mental Health dan University of Sydney diharapkan turut mendorong lingkungan sekolah yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental.
Bagi remaja, upaya menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan mengenali apa yang dirasakan, memiliki orang yang bersedia mendengarkan, serta mengetahui bahwa meminta pertolongan merupakan bagian dari upaya mendapatkan dukungan yang tepat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 6483 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5603 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3514 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2371 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan