Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Film Bhatari Sri, Subak dan Jejak-jejak Kemuliaan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Film Bhatari Sri: Subak dan jejak-jejak kemuliaan produksi kitapoleng Bali (2021) berangkat dari sistem subak telah menjadi bagian dari sosio kultural masyarakat di Bali.
Sesungguhnya subak tak hanya sekedar sistem pengairan saja, di dalamnya ada konsep keadilan. Subak telah menjadi organisasi demokratis; para petani yang memanfaatkan sumber air yang sama, bertemu secara teratur untuk bermusyawarah dan mengkoordinasikan penanaman, mengontrol distribusi air irigasi, merencanakan pembangunan, pemeliharaan kanal dan bendungan, serta mengatur upacara persembahan dan perayaan di Pura Subak.
Dari wikipedia diketahui, dalam Prasasti Raja Purana (Tahun 994 Saka/1072 Masehi) terdapat kata kasuwakara yang diduga berasal dari kata suwak. Kata inilah yang kemudian berkembang menjadi subak. Secara etimologi, kata suwak sendiri terdiri dari dua suku kata yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” yang memiliki arti pembicaraan.
Sehingga suwak atau subak sendiri bisa diartikan sebagai melakukan pembicaraan dengan niat baik untuk kepentingan bersama.
Spirit yang dikandung dalam subak tentu tak lepas dari spirit Tri Hita Karana, sebuah falsafah hidup mengenai harmonisasi kita dengan sesama manusia, lingkungan dan Tuhan.
Begitu banyak kearifan Bali yang diangkat dengan titik berangkat subak ini, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam Bali yang melahirkan budaya adiluhung. Dalam film ini bisa ditemukan, bagaimana penghormatan masyarakat Bali terhadap lingkungan, termasuk penghormatan terhadap Bhatari Sri yang telah memberikan kelimpahan, bagaimana pakaian tradisional Bali hadir sebagai sebuah karakter atau identitas, juga mengenai Asta Kosala Kosali yang mengatur tata bangunan di Bali, dimana seluruhnya berkaitan dengan Dewata Nawa Sanga.
Bhatari Sri menjadi kunci dalam film ini. Sutradara I Gusti Dibal mengatakan, Bhatari Sri hadir sebagai spirit juga karakter wayang yang mengikat dramatik film.
“Kami mengambil latar beberapa lokasi di Bali yang tidak semata-mata indah secara visual, tetapi juga memiliki sejarah kuat yang mempengaruhi kultur masyarakatnya. Selain itu, film ini juga diramu dengan memadukan kekuatan visual, tari, musik, dan narasi untuk menciptakan kemasan yang tak hanya menarik, tetapi juga mengandung informasi dan pesan mendalam yang dikreasikan secara artistik dan direspon menggunakan media baru,” jelasnya.
Bhatari Sri: Subak dan Jejak-Jejak Kemuliaan didukung oleh koreografer Jasmine Okubo, komposer Peny Chandra Rini dan Putu Septa, serta diperkuat oleh Ayu Laksmi, Cok Sawitri, Alien Child, Arya Wirawan, Apel Hendrawan, Narend, Nanta, Dewi, dan lain-lain.
Film Bhatari Sri: Subak dan Jejak-Jejak Kemuliaan bisa disaksikan, Jumat (26/11) pukul 17.00 Wita di pkn.id, indonesiana.tv dan kanal Youtube Budaya Saya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2615 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan