Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Nikah dengan Keris, PHDI Denpasar: Bukan Solusi Terakhir
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Fenomena seorang perempuan muda yang menikah dengan keris viral di sosial media. Peristiwa ini menguras emosi para netizen. Sebagian dari mereka memberi dukungan kepada perempuan tersebut, secara moral.
Terkait fenomena itu Ketua PHDI kota Denpasar Nyoman Kenak, turut menyayangkan peristiwa itu terjadi. Praktisi keagamaan ini menilai menikah dengan keras bukan solusi terakhir untuk menuntaskan persoalan pernikahan.
"Walaupun itu bisa dibenarkan oleh undang-undang nasional terkait pengasuhan anak, tapi dari sudut pandang agama Hindu yakni perkawinan itu dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum agama masing-masing," ujarnya.
Dia menegaskan sepasang suami istri harus memiliki satu keyakinan saja. Bagi mereka yang berkeyakinan beda, maka untuk masuk Hindu dilakukan proses Sudiwedani yang merupakan janji suci untuk memeluk agama Hindu.
Kondisi ini tidak lepas dari pemahaman tentang seksual di kalangan remaja. Maka menurutnya sangat penting mengenal edukasi seksual sejak dini, sehingga dapat mencegah peristiwa serupa terulang kembali.
"Kita harus kembali ke belakang mengingat kembali apa makna dari menikah itu sendiri kepada kaula muda. Artinya komunikasi kita dengan generasi muda ini kurang intens. Maka pendidikan seksual masih kurang karena dianggap tabu," tuturnya saat diwawancarai Rabu (19/1/2022) di kantornya.
Dalam edukasi tersebut, menurutnya penting memberi apresiasi terhadap kawula muda yang menaati tahapan pranikah itu. Sementara dari kacamata Hindu, menikah adalah Dharma Sampati, yang juga memiliki makna bahwa kebenaran itu harus dilaksanakan.
Dalam hal ini, perkawinan harus sesuai aturan sehingga sah dalam hal agama dan tercatat dinas pemerintah. Perkawinan juga bertujuan meneruskan keturunan, sehingga ini yang menurutnya penting diketahui generasi muda.
"Dalam Agastya Parwa terdapat simbol dari persatuan antara keluarga purusa dan perdana menuju jenjang yang lebih baik," ungkapnya.
Menurutnya tidak sebanding seorang manusia dinikahkan dengan sebuah keris yang merupakan benda mati, sehingga menurutnya kebijakan ini kontraproduktif.
Reporter: bbn/dps
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan