Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 3 November 2026
Penjelajah China Temukan Bola Kaca Aneh di Sisi Jauh Bulan
BERITABALI.COM, DUNIA.
Penjelajah Yutu-2 milik China melihat dua bola kaca aneh yang ditemukan di sisi jauh Bulan. Objek tersebut berkilauan seperti mutiara di lanskap Bulan yang kering dan berdebu.
Menurut para ahli, bola kaca ini adalah yang pertama ditemukan di permukaan Bulan dan terbentuk baru-baru ini. Kaca sendiri pernah terlihat di Bulan sebelumnya oleh penjelajah Yutu-2 dan misi Apollo 16 NASA.
Itu terbentuk ketika mineral kaya silikon seperti piroksen dan feldspar menjadi sangat panas. Namun, ini adalah pertama kalinya bola kaca ditemukan di Bulan.
Para ilmuwan tidak tahu secara pasti asal-usul dari bola kaca tersebut.
Tapi hipotesis menyebutkan bahwa bola kaca kecil ini mungkin terbentuk selama letusan eksplosif dalam sejarah gunung berapi Bulan.
Kemungkinan lainnya adalah terbentuk setelah tabrakan berkecepatan tinggi dengan meteorit.
"Bentuk bulatan kaca itu membuat kami takjub karena sangat unik. Sayangnya, ketika kami pertama kali menemukannya, penjelajah baru saja melewatinya dan tidak ada data komposisi yang diperoleh, kata Zhiyong Xiao, ahli geologi planet di Universitas Sun Yat-sen, China.
Bola kaca atau dikenal juga sebagai microtektites sebelumnya telah ditemukan di Bumi di sekitar lokasi tumbukan meteorit.
Setelah dihantam meteorit, bongkahan kerak planet terlempar ke udara dan mineral silikat cair, yang terkandung di dalamnya bergabung membentuk manik-manik kaca kecil.
Microtektites yang baru ditemukan ini memiliki diameter sekitar 0,6 hingga 1 inci, lebih besar dari yang ditemukan di Bumi.
Namun, itu lebih kecil dari bongkahan kaca yang ditemukan astronot Apollo 16 yang memiliki diameter 1,57 inci.
Microtektites yang ditemukan Yutu-2 juga ditemukan di dekat kawah tumbukan.
Hal ini membuat para ahli percaya bahwa bola kaca kecil itu terbentuk dari batuan beku kaya feldspar yang meleleh dan terbentuk kembali setelah tabrakan meteor.
Dilansir dari Live Science, Jumat (25/2/2022), mempelajari komposisi dan usia bola-bola seperti itu, dapat membantu para ilmuwan memahami dampak Bulan serta memberi informasi yang berguna tentang bahan bangunan potensial di permukaan Bulan.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 551 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 407 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 406 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan