Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 8 September 2026
Bandara Soetta Ditutup, PHRI Bali Khawatir Wisatawan Terganggu
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Banten akibat meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dikhawatirkan berdampak terhadap mobilisasi wisatawan menuju Bali.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Menurutnya, gangguan operasional Bandara Soekarno-Hatta berpotensi memengaruhi perjalanan wisatawan, khususnya penumpang domestik dari Jakarta menuju Bali.
Mantan Wakil Gubernur Bali yang akrab disapa Cok Ace itu mengatakan, rute Jakarta-Bali menjadi salah satu jalur yang perlu mendapat perhatian apabila penutupan bandara berlangsung lebih lama.
“Penutupan ini akan berdampak langsung kepada mobilisasi penumpang, termasuk pariwisata yang akan ke Bali, khususnya yang domestik menggunakan rute Soetta ke Bali dan juga bagi wisatawan yang transit di Jakarta,” ujar Cok Ace, Senin (07/09/2026).
Cok Ace menilai diperlukan langkah mitigasi dan pengalihan penerbangan apabila gangguan operasional Bandara Soekarno-Hatta berlangsung lebih lama.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah mengarahkan penerbangan melalui bandara alternatif. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran mobilisasi wisatawan menuju Bali di tengah gangguan penerbangan.
Dampak penutupan bandara, lanjut Cok Ace, tidak hanya perlu diperhitungkan bagi wisatawan yang hendak masuk ke Bali. Wisatawan mancanegara yang akan meninggalkan Indonesia juga berpotensi menghadapi persoalan akibat gangguan penerbangan.
Menurut Cok Ace, gangguan penerbangan dapat menimbulkan persoalan lanjutan bagi wisatawan mancanegara, mulai dari jadwal keberangkatan hingga persoalan izin tinggal apabila terjadi keterlambatan cukup lama.
“Persoalannya tidak sesederhana itu. Penutupan bandara juga berdampak terhadap wisatawan yang akan meninggalkan Indonesia, termasuk persoalan perizinan. Apakah dia tidak overstay gara-gara delay berangkatnya, bagaimana pembiayaannya dan lain sebagainya,” katanya.
Ia mengingatkan, persoalan gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik bukan hal baru bagi sektor pariwisata Bali.
Pengalaman saat erupsi Gunung Agung menjadi salah satu contoh bagaimana gangguan penerbangan dapat menimbulkan dampak lanjutan terhadap wisatawan sekaligus industri pariwisata Bali.
Di tengah potensi gangguan tersebut, pasar wisatawan mancanegara ke Bali secara keseluruhan masih menunjukkan tren positif.
Australia dan India masih menjadi pasar penting bagi Bali. Sementara itu, kunjungan wisatawan asal China mulai menunjukkan peningkatan.
Cok Ace menyebut penurunan kunjungan wisatawan India dalam beberapa waktu terakhir masih tergolong wajar dan dapat dipengaruhi kondisi domestik negara asal, termasuk periode liburan.
“Namun demikian, dari tren jumlah kunjungan ke Bali secara keseluruhan masih menunjukkan angka positif pada bulan yang sama 2025 dibandingkan 2026,” ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3219 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 719 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 668 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman