Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 21 Mei 2026
Dampak Perang Bagi Kesehatan Mental Anak
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perang seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia tak hanya dapat menghancurkan secara fisik tetapi juga mental. Termasuk anak-anak yang terjebak dan tinggal di zona perang.
Invasi Rusia ke Ukraina yang semakin intensif tidak hanya menyebabkan kehancuran bangunan tetapi juga berdampak bagi mental anak.
Setidaknya, melansir dari ABC News, tujuh anak telah tewas di Ukraina, ungkap Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Selain kematian, beberapa anak juga mengalami luka-luka akibat serangan udara dan juga ledakan.
Zona perang ini membuat kelompok anak-anak bersembunyi di tempat, seperti ruang bawah tanah dan stasiun metro. Tidak cuma itu, beberapa lainnya meninggalkan rumah dan menyelamatkan diri ke negara tetangga.
"Anak-anak sangat rentan terhadap rasa tidak aman. Tidak hanya trauma fisik, tetapi juga trauma psikologis. Dan itu dapat bergema dan memiliki dampak untuk waktu yang cukup lama," ungkap Profesor Pediatri dari Universitas Stanford, Dr. Paul Wise.
Risiko Kesehatan Mental Bagi Anak yang Tinggal di Zona Perang
Beberapa risiko fisik yang dialami anak akibat zona perang adalah, mulai akibat menghirup asap dan abu dari kebakaran hingga ledakan. Dampaknya, ini bisa berimbas pada hidung dan juga paru-paru.
Di sisi lain, penelitian menunjukkan, anak-anak dan keluarga yang tinggal atau melarikan diri dari wilayah perang, memiliki risiko menderita masalah kesehatan mental.
"Kami telah melihat situasi perang masa lalu seperti yang terjadi di Ukraina, salah satunya peningkatan depresi dan kecemasan," ungkap Dr. Monica Barreto, Psikolog Klinis dari Rumah Sakit Anak Orlando, Health Arnold Palmer.
Meski tidak semua anak mengalami trauma, tetapi mereka bisa memiliki reaksi yang berbeda terhadap situasi traumatis yang mereka rasakan.
"Beberapa anak mungkin lebih gelisah, dan mereka mungkin lebih sulit untuk ditenangkan," ungkap Direktur Pusat Anak Berkembang dari Universitas Harvard, Dr. Jack Shonkoff.
"Beberapa anak dalam keadaan seperti ini cenderung menarik diri, tidak banyak menangis, dan tidak menuntut banyak perhatian," lanjut Dr. Jack.
Dari kondisi tersebut, terkadang banyak anak yang menutupi sebagian rasa traumanya atas peristiwa perang. Dr. Jack menegaskan, kondisi ini bisa mengkhawatirkan bagi mental anak ke depannya.
"Terkadang, itu adalah tanda dari hal-hal yang paling dikhawatirkan, karena anak-anak memilih menarik diri, dan menginternalisasi banyak hal yang terjadi," pungkasnya.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1909 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1735 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1288 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1157 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah