Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Viral Wayang Berbahan Limbah Sampah Plastik Jadi Materi Ujian
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Viral di media sosial, sebuah wayang berukuran besar menggunakan bahan limbah sampah plastik.
Melansir dari akun Instagram @denpasarnow, wayang yang terbuat dari hasil limbah ini rencananya digunakan sebagai properti dalam ujian Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Lewat unggahan Tiktok miliknya @swandana21, sang kreator memberi nama karyanya ini sebagai "Kala Murka Amurti Ratu".
Menyadari akan pentingnya menjaga lingkungan terutama dari sampah plastik, membuat sang kreator terinspirasi untuk membuat wayang sebesar raksasa.
Sehingga maksud keberadaan sosok wayang ini pun tidak lain agar membuka kesadaran manusia yang telah menciptakan banyaknya limbah plastik.
"Mengambil tema wayang limbah plastik bertujuan untuk membuka kesadaran manusia terhadap limbah plastik yang digunakan sehari-hari. Semoga kesadaran terhadap limbah plastik bisa diatasi dengan baik," tulisnya dalam caption.
Warganet yang ikut menyimak unggahan tersebut turut memberikan apresiasi atas kreativitas luar biasa itu
"Gagah na, orin lugas ngabe soan nah," kata @arya kes***
"Mantap bli Rahayu jaga kebersihan," ungkap @Dekbimbi***
"Anak Bali mule kereatip," tulis @gedesukariyasa***
(Sumber: Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4307 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1460 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 953 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 887 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 778 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun