Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 27 Agustus 2026
Terra Luna Anjlok 90%, Analis Ingatkan Risiko Kripto
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Sepekan terakhir sejumlah uang kripto ternama seperti Bitcoin dan Etherum mengalami tren penurunan lebih dari 20%. Namun ada juga yang lebih parah, yakni uang kripto Terra Luna turun hingga 90%.
Alasan utama penurunan harga aset kripto, antara lain karena ada gerakan menjual uang kripto di seluruh dunia akibat tekanan ekonomi dan kekhawatiran atas inflasi.
Analis juga pakar hukum investasi Hendra Setiawan Boen mengatakan perang antara Rusia dan Ukraina yang mengakibatkan terganggunya pergerakan ekonomi di Eropa dan kenaikan faktor suku bunga pinjaman mengakibatkan inflasi yang cukup tinggi dan akan terus naik.
Oleh karena itu, para investor cenderung menjual aset yang berisiko, misalnya tidak memiliki fundamental atau underlying yang pasti, dalam hal ini mata uang kripto . "Selama perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung kemungkinan kripto akan terus turun karena kinerja stablecoin Terra USD juga terus memburuk. Selain itu, pasar kripto juga menunjukan arah bubble karena memang overvalue. Koreksi terhadap harga akan terjadi cepat atau lambat," kata Hendra, di Jakarta, Sabtu (14/5/2022).
Hendra mengatakan, walaupun sudah bubble, tapi saya melihat gelembung harga kripto belum akan pecah. Melihat tren kenaikan dan penurunan selama ini, kripto memang cenderung turun tajam, dan kemudian naik tinggi.
Tidak ada ukuran jelas untuk memprediksi nilai aktual asset tanpa fundamental adalah salah satu alasan kripto termasuk produk beresiko dan berbahaya untuk investasi.
Selain itu, Hendra juga menyoroti penurunan penjualan NFT sejak September 2021 hingga mencapai 92% dan nilai NFT yang turut merosot tajam seperti NFT berupa cuitan pertama pendiri Twitter, Jack Dorsey dari nilai pembelian USD2,9 juta dan pada April dinilai USD280.
"Dari awal saya sudah melihat NFT itu tidak wajar. Pada dasarnya NFT hanya membeli data digital padahal data digital mudah disalin siapapun secara gratis. Kalau begitu, apa gunanya membeli NFT dengan harga mahal? Yang namanya membeli barang harus disertai kepemilikan secara ekslusif. Kalau kita sudah membeli tapi orang lain dapat memiliki barang yang persis sama secara cuma-cuma," jelas Hendra.
Hendra memberikan saran kepada calon investor untuk selalu menekankan produk investasi dengan nilai fundamental atau underlying. Menurut dia, calon investor harus rajin mempelajari fundamental produk, tidak cepat terbuai dengan bujuk rayu marketing.
Lantaran, bagaimanapun mereka punya kepentingan berupa komisi tapi mereka tidak akan bertanggungjawab kalau ada apa-apa dengan produk tersebut. "Produk yang dijual mengandalkan influencers atau selebritas juga perlu diwaspadai, apalagi kalau sekedar memamerkan aset pribadi seolah-olah hasil investasi di produk tersebut," jelasnya.
Bukan saja karena beberapa influencers produk investasi yang saat ini berhadapan dengan hukum, tapi sebenarnya dari awal semua calon investor perlu mempertanyakan bagaimana kapasitas dan kapabilitas dari para selebritis itu soal investasi. "Intinya, jadilah investor yang cerdas dan tidak latah atau FOMO (fear of missing out) atau takut ketinggalan," tandasnya. (Sumber: SINDOnews.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4689 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2500 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2140 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1762 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1185 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun