Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Wagub Bali: Asal Usul Tari Topeng Dalem Sidakarya dari Lumajang
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengungkap asal usul dan makna tari topeng Sidakarya yang datangnya dari Jawa Timur, tepatnya di Lumajang.
Menurut Wagub yang akrab disapa Cok Ace, Tarian Topeng Dalem Sidakarya adalah tarian sakral yang wajib ditarikan pada setiap upacara, bahkan dari asal usul, Topeng Dalem Sidakarya datangnya dari Jawa Timur, dalam hal ini Lumajang.
Selain itu sebagian besar masyarakat Hindu Bali juga berasal dari Jawa Timur, khususnya kawasan Gunung Semeru.
Hal ini ia ungkapkan saat berkesempatan ngaturang ayah nopeng (menarikan topeng) Sidakarya di Pura Mandara Giri Semeru Agung Senduro Lumajang Jawa Timur, serangkaian puncak karya pujawali yang jatuh pada hari Rabu, Purnama Kasa, Buda Kliwon Wuku Pahang (13/7).
“Ini menunjukkan betapa eratnya persaudaraan kita (Bali dan Jawa Timur, red). Sehingga saya harapkan agar integrasi dan kebersamaan umat Hindu di Bali dan Jawa Timur terus terbangun. Oleh sebab itu, kami upayakan selalu untuk dapat tangkil dan ngaturayah setiap satu tahun sekali, secara bergilir per-Kabupaten,” ungkap Wagub Cok Ace.
Topeng Dalem Sidakarya memiliki makna mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Topeng Sidakarya pun menjadi lambang bahwa pekerjaan atau karya yang digelar sudah selesai dengan baik.
Tari topeng ditampilkan sebagai tari persembahan (wewalen) sebelum acara pemujaan bersama yang dipimpin sulinggih, yang bertujuan agar upacara yang berlangsung dapat terselenggara dengan baik dan selamat serta terhindar dari segala bahaya.
Pada akhir tari ini secara simbolis penari menghamburkan uang kepeng dan beras kuning (sekarura) sebagai lambang pemberian berkat kesempurnaan dan kemakmuran kepada alam semesta dan seisinya.
Selain Topeng Dalem Sidakarya, rentetan karya juga lengkap mempersembahkan wewalian berupa wayang kulit, rejang dewa, rejang renteng, tari baris dan tari legong kejawen.
Puncak karya dipuput oleh tiga (3) sulinggih yakni Ida Pedanda Baturiti, Ida Pedanda Wanayoga dan Ida Pedanda Selat Duda. selain itu hadir juga Wakil Bupati Karangasem, Romo Mangku Pura Medang Kamulan Gresik, Kapolres Lumajang, Camat Lumajang.
Untuk melengkapi persembahan, rangkaian karya pujawali juga dilengkapi dengan caru manca kelud atau yang juga disebut sebagai caru panca rupa yang juga digunakan saat upacara “Ngelinggihang" (meletakan) Dewa ring Parahyangan Agung dan Alit, upacara pamungkah, pakiyisan agung/ alit, mapadudusan agung/alit/madya.
Serangkaian pujawali, Ida Betara akan nyejer hingga 24 Juli 2022 dan dalam kurun waktu ini setiap harinya akan dilaksanakan prosesi nganyarin. Umat Hindu yang ingin nangkil dan melaksanakan persembahyangan bisa memanfaatkan waktu tersebut.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Bali
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6037 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2363 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2252 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan