Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Putin Jadi 'Sandera' di Ukraina, Maju Kena Mundur Kena
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perang Rusia di Ukraina yang berkepanjangan dinilai telah menjadi bumerang bagi Presiden Vladimir Putin. Pemimpin itu disebut kini 'tersandera' dalam konflik tersebut.
Baca juga:
Ledakan di Masjid Kabul, 3 Orang Tewas
Adapun, menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, Rusia kini telah kehilangan sekitar 44.000 tentaranya. Penghitungan harian terbarunya pada Rabu juga mengonfirmasi bahwa kerugian terberat baru-baru ini terjadi di Kharkiv dan Donetsk.
Putin pun diketahui telah menghadapi kesulitan besar selama invasi setelah banyak kemunduran, termasuk perlawanan sengit Ukraina dan masalah teknis. Ada juga masalah pasokan karena sistem logistik militer Rusia yang rusak yang telah dihancurkan oleh serangan Ukraina.
Profesor Nikolai Petrov adalah peneliti senior Program Rusia dan Eurasia di Chatham House mengatakan Putin saat ini menjadi sandera dari keputusan yang dia buat.
"Sepertinya tidak ada pilihan, dia harus meningkatkan tekanannya pada Ukraina, karena dia telah membayar harga yang sangat besar, yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan sebelum membuat langkah ini," tuturnya kepada Express, dikutip Kamis (18/8/2022).
Menurutnya, untuk membenarkan tindakannya, Putin terus mencoba meyakinkan para elite dan pejabat Rusia bahwa langkah yang diambilnya memiliki banyak manfaat.
Namun, dalam beberapa minggu terakhir ada peningkatan peringatan bahwa Putin akan menghadapi kemarahan para orang tua Rusia yang menuntut penarikan pasukan Rusia saat mereka mengetahui bagaimana putra mereka sekarat di Ukraina.
Petrov pun berpendapat Ukraina telah memenangkan perang dalam "moralitas" dan telah menyerukan agar pertempuran dihentikan.
"Dalam pandangan saya, perang harus dihentikan sesegera mungkin. Kita dapat mengatakan bahwa Ukraina sudah menang secara moral, tetapi tidak bisa menang secara militer karena kekuatannya sangat tidak proporsional," katanya.
Menurutnya, sangat wajar NATO dan negara-negara Barat lainnya tidak ingin terlibat secara langsung mengingat ada ancaman nuklir dan lainnya.
"Ukraina harus melakukan yang terbaik untuk membuat kesepakatan apa pun demi mencapai semacam kompromi untuk gencatan senjata dan mendorong pasukan Rusia keluar dari Ukraina," ujarnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5926 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4648 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan