Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Ledakan Saat Ngaben Massal, Begini Keterangan Pemilik Kompor
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Insiden tabung kompor pembakaran mayat meledak membuat kaget pemilik kompor, Made Suarta. Dia tidak tahu kenapa kompor bisa meledak. Padahal kompor biasa digunakan saat acara ngaben.
Saat ngaben di setra Selat, dia bersama anak buahnya membawa 10 kompor dengan 4 tabung berukuran besar. “Saya tidak tahu pasti kenapa kompornya bisa meledak,” ujarnya.
Sebelum digunakan sudah dilakukan pengecekan. Kompornya menggunakan bahan bakar solar dengan pemompanya menggunakan bensin. Tabungnya warna hitam telah termodifikasi. Ukurannya lebih besar dari tabung gas biasa.
“Saya juga tidak tahu situasinya tadi, tidak menyangka kejadian bisa begini,” ujarnya.
Sementara Kelian Adat, I Wayan Suartawan mengatakan terdapat 60 sawa dalam pengaben massal tersebut. Ia tidak mengetahui persis kronologisnya. Sebab pihaknya sedang mempersiapkan keperluan untuk Nganyut ke pantai. Saat terjadinya insiden tersebut ia tidak sedang berada di lokasi.
“Saya sedang tidak di lokasi, tiba-tiba mendengar laporan tersebut dari masyarakat saya jadi gemetar,” ujarnya.
Ia mengatakan terdapat 9 orang mengalami luka bakar sedang mendapat perawatan di RSUD Sanjiwani. Dimana 3 petugas kompor pembakaran dan lima warganya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3672 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1338 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 925 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 850 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 701 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun